Keikhlasan Dalam Mengajar Dan Berdakwah Di Jalan Allah

Imam Nawawi rahimahullah tidak suka jika seorang penguasa datang secara tiba-tiba kepadanya tanpa sepengetahuannya saat sedang mengajar di Madrasah al-Asyrofiyyah atau Masjid Jami 'Bani Umayyah. Jika ada pemberitahuan tentang kedatangan pembesar saat dia sedang mengajar, dia tidak akan mengajar pada hari itu karena takut pembesar tersebut melihatnya sedang dalam perkumpulannya dan majlisnya yang besar. Hal ini dilakukan Imam Nawawi rahimahullah karena takut terkena bangga dengan pengajarannya sehingga menyia-nyiakan pahalanya. (Referensi: Tanbihul Mughtarrin: 12)
BACA JUGA Inilah Bahaya Sifat Dengki UntukTubuhHabib Abdullah bin Alwi al-Haddad pernah mengungkapkan bahwa setan memiliki cara-cara yang samar untuk menipu manusia. Dia juga mengatakan bahwa penyakit riya' dapat mengalir di tubuh manusia seperti mengalirnya darah. Yahya bin Mu'adz, seorang penasehat terkenal dan murid seniornya Abi Yazid al-Busthomi, pernah mengalami riya' saat memberikan ceramah di podium. Dia mengakui bahwa jika dia berbicara di Baghdad, dia merasa lebih terinspirasi dan menarik perhatian pejabat dan orang kaya. Namun, jika dia berbicara di tempat lain, hal itu tidak terjadi. Seorang budaknya kemudian memberitahunya bahwa hal itu disebabkan oleh riya'. Informasi ini dapat ditemukan dalam kitab <alManhaj as-Sawiy: 709> dan <Tatsbîtul Fuâd: 1/44>.
Diceritakan bahwa pada suatu masa, Nabi Musa memiliki seorang sahabat yang selalu menemani dan belajar darinya. Namun, sahabat tersebut akhirnya mengajar orang lain dengan menceritakan apa yang telah ia pelajari dari Nabi Musa dengan maksud untuk memperoleh harta. Hal ini membuatnya menjadi kaya dan memiliki banyak harta. Karena itu, Nabi Musa meninggalkannya.
Suatu hari, Nabi Musa merasa penasaran tentang keberadaan sahabatnya tersebut tetapi ia tidak bisa menemukannya. Akhirnya, datanglah seorang pria yang membawa seekor babi dan tali hitam di lehernya. Nabi Musa bertanya padanya apakah ia melihat sahabatnya. Pria tersebut menjawab bahwa sahabatnya telah berubah menjadi babi yang ia bawa.
Nabi Musa kemudian memohon kepada Allah untuk mengembalikan sahabatnya ke wujud manusia agar ia dapat menanyakan tentang kejadian tersebut. Namun, Allah memberikan wahyu kepada Nabi Musa bahwa meskipun ia memohon dengan sesuatu yang diinginkan oleh Nabi Adam dan generasi-generasi setelahnya, Allah tidak akan mengembalikan sahabatnya ke wujud manusia. Hal ini karena sahabat tersebut mencari dunia dengan agama yang tidak benar. Dikisahkan dalam kitab "al Manhaj as Sawiy" halaman 293 dan kitab "ad Da'wah at-Tâmmah" halaman 65 juga memiliki keterangan yang serupa.
Imam as-Sya'rani mengutip dari gurunya, Ali al-Khowwas, mengenai makna Hadits yang berbunyi, "Sesungguhnya Allah benar-benar menguatkan agama ini dengan orang yang jahat." Menurut Ali al-Khowwas, makna dari hadits tersebut adalah bahwa seseorang dapat memperoleh manfaat dari ilmu yang dimiliki oleh orang yang tidak ikhlas. Orang yang jahat dapat mengajarkan pengajaran dan fatwa kepada manusia, sehingga mereka terlihat seperti ulama yang mengamalkan ilmunya. Namun, Allah akan memasukkannya ke dalam neraka karena ketidakikhlasannya. Artinya, seseorang yang mempelajari ilmu karena riya' dan kemasyhuran, kemudian mengajarkan ilmunya kepada manusia tentang urusan agama mereka, dapat memahamkan mereka tentang agama, menjaga mereka serta menolong agama jika terdapat kelemahan. Sumber kutipan ini dapat ditemukan dalam kitab al-Anwar al-Qudsiyyah. <alManhaj as-Sawiy: 287>.
Posting Komentar untuk " Keikhlasan Dalam Mengajar Dan Berdakwah Di Jalan Allah"