Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Bulan Puasa Syaitan-Syaitan Akan Di Ikat

Tafsir Ibn Kathir menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadan serta ibadah puasa di bulan tersebut. Puasa di bulan Ramadan merupakan salah satu kewajiban utama dalam agama Islam, dan jika dilakukan dengan niat yang ikhlas dan penuh harapan akan pahala dari Allah, maka akan mendapatkan ampunan dosa-dosa yang telah lalu.


"'Man shama Ramadan Imanan wahtisaban ghufiralah hu ma takaddama min dhambihi.'" (HR. Bukhari-Muslim)

Artinya: "Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ". رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.

"'Idha jaa Ramadanu futtihati abwabul jannah wa ghulliqati abwabun naar wa suffidatish shayaatin.'"

Artinya: "Apabila tiba bulan Ramadan, dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu setan-setan."

Kedua hadis di atas merupakan hadis yang sangat penting dan sering dikutip dalam konteks bulan Ramadan. Hadis pertama menekankan pentingnya berpuasa dengan iman dan harapan pahala dari Allah, sedangkan hadis kedua memberikan gambaran bahwa bulan Ramadan adalah saat yang sangat istimewa di mana Allah membuka pintu-pintu surga, menutup pintu-pintu neraka, dan mengurung setan-setan. Hal ini membuat bulan Ramadan menjadi waktu yang sangat baik untuk memperbanyak amal ibadah dan meningkatkan kualitas spiritualitas.

Hadis "Man shama Ramadan Imanan wahtisaban ghufiralah hu ma takaddama min dhambihi" dan "Idha jaa Ramadanu futtihati abwabul jannah wa ghulliqati abwabun naar wa suffidatish shayaatin" merupakan hadis yang sangat terkenal dan sering dikutip oleh para ulama. Oleh karena itu, syarah atau penjelasan hadis ini dapat ditemukan di banyak kitab hadis dan kitab tafsir.

"Man shama Ramadan Imanan wahtisaban ghufiralah hu ma takaddama min dhambihi" (HR. Bukhari-Muslim)

Artinya: "Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Hadis ini merupakan hadis yang sangat terkenal dan sering dikutip oleh para ulama. Hadis ini menerangkan bahwa berpuasa di bulan Ramadan adalah ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam, karena selain dapat membersihkan diri dari dosa, juga dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka.

Tafsir Ibn Kathir menyatakan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan dan keistimewaan bulan Ramadan serta ibadah puasa di bulan tersebut. Puasa di bulan Ramadan merupakan salah satu kewajiban utama dalam agama Islam, dan jika dilakukan dengan niat yang ikhlas dan penuh harapan akan pahala dari Allah, maka akan mendapatkan ampunan dosa-dosa yang telah lalu.

Tafsir Ibn Kathir juga menekankan bahwa puasa bukan hanya menahan diri dari makan, minum, dan nafsu seksual, tetapi juga menuntut pengendalian diri dalam segala hal, termasuk perkataan, perbuatan, dan pikiran. Oleh karena itu, puasa di bulan Ramadan dapat membantu seseorang untuk meningkatkan kesadaran spiritual dan keimanan kepada Allah.

"Idha jaa Ramadanu futtihati abwabul jannah wa ghulliqati abwabun naar wa suffidatish shayaatin" (HR. Bukhari-Muslim)

Artinya: "Apabila tiba bulan Ramadan, dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu setan-setan."

Hadis ini juga merupakan hadis yang sangat terkenal dalam Islam. Hadis ini menerangkan bahwa di bulan Ramadan, Allah SWT membuka pintu-pintu surga dan menutup pintu-pintu neraka, sehingga kesempatan untuk mendapat ampunan dan pahala sangat terbuka lebar. Selain itu, setan-setan juga dibelenggu di bulan ini, sehingga umat Muslim diharapkan dapat menghindari godaan dan tipu daya setan. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka.

"Man shama Ramadan Imanan wahtisaban ghufiralah hu ma takaddama min dhambihi" (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam kitab Fathul Bari karangan Imam Ibn Hajar al-Asqalani, hadis ini dijelaskan sebagai berikut:

في هذا الحديث من شأن الإيمان أن ينبني على الأعمال، وشأن الاعتدال والتوازن فيها، فالتوفيق بينهما وتقدير كل واحد منهما على حسب ما ينبغي له من أن يتماشى مع الآخر مما يقتضيه المعنى من الصواب والصلاح، وهذا المعنى الذي يتضمنه الإحسان. وأما الاحتساب فمن جعله مع كل فعل من الأعمال، فهو أن يرجو ثواب الله ورحمته بهذا الفعل ويعلم أنه لا يستطيع التمام للفضيلة وحده دون توفيق الله.

Artinya, "Dalam hadis ini terdapat hal penting tentang iman yang harus dibangun melalui amal, dan juga pentingnya keseimbangan dan proporsi antara keduanya. Keberhasilan dalam menggabungkan keduanya serta menempatkannya pada proporsi yang sesuai dengan masing-masing kebaikan dan kebenaran yang sesuai dengan makna kebaikan, yaitu ikhsan. Sedangkan mengharapkan pahala dari Allah dengan setiap perbuatan, hal ini merupakan suatu hal yang sangat penting dalam amalan, dan menjadikan harapan untuk menerima pahala dari Allah dan rahmat-Nya atas perbuatan ini, serta mengetahui bahwa tidak mungkin dapat melakukan amalan kebaikan tanpa taufiq dari Allah."

Imam Ibn Hajar al-Asqalani mengutip penafsiran dari Imam An-Nawawi bahwa hadis ini menunjukkan bahwa orang yang berpuasa di bulan Ramadan dengan iman dan mengharap pahala akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Selain itu, hadis ini juga menunjukkan bahwa orang yang berpuasa di bulan Ramadan harus memiliki niat yang ikhlas karena Allah semata.

BACA JUGA  

hadits tentang bulan ramadhan dan artinya

Syarah Hadis Lima Perkara Dasar Yang Menjadi Pondasi Agama Islam.

Imam Nawawi dalam kitabnya, Riyadhus Shalihin, memberikan penafsiran mengenai hadis tersebut sebagai berikut:

"Man shama Ramadan Imanan wahtisaban ghufiralah hu ma takaddama min dhambihi" (HR. Bukhari-Muslim)

Imam Nawawi mengatakan bahwa hadis ini menunjukkan bahwa seseorang yang berpuasa di bulan Ramadan dengan iman yang benar dan dengan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh Allah. Dia juga menjelaskan bahwa iman dalam konteks hadis ini mengandung arti kepatuhan terhadap perintah Allah dengan menjalankan puasa di bulan Ramadan dan ikhlas dalam niatnya, serta percaya bahwa puasa di bulan Ramadan adalah sebuah kewajiban.

Sedangkan, istilah "ihtisaban" dalam hadis ini mengandung arti seseorang yang menjalankan ibadah puasa dengan mengharapkan pahala dari Allah semata. Hal ini menunjukkan pentingnya menjaga niat agar selalu ikhlas dalam beribadah dan menghindari sikap riya' atau pamer.

Imam Nawawi juga menjelaskan bahwa hadis ini menunjukkan betapa besar ampunan Allah SWT terhadap hamba-hamba-Nya yang beribadah dengan ikhlas. Karena dengan berpuasa di bulan Ramadan, seseorang telah menunjukkan kesediaannya untuk menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri di saat yang seharusnya hal tersebut dapat dilakukan, sehingga dapat meningkatkan kesabaran dan keimanan seseorang.

Penjelasan Imam Nawawi tentang hadis "Man shama Ramadan Imanan wahtisaban ghufiralah hu ma takaddama min dhambihi" dapat ditemukan di kitab Riyadhus Shalihin, bab ke-43, hadis nomor 190. Berikut adalah matan kitab tersebut dalam bahasa Arab:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan ihtisab (mengharapkan pahala dari Allah), niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari-Muslim)

"Idzaa jaa'a Ramadhanu futtihat abwaabul jannati wa ghulliqat abwaabun naar wa sufidatissyaathin" (HR. Bukhari-Muslim)

Imam Nawawi mengatakan bahwa hadis ini menunjukkan betapa besar keutamaan bulan Ramadan, di mana pada bulan ini dibukakan pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan diikat setan-setan, sehingga memudahkan umat Islam untuk beribadah dan memperbanyak amal shalih.

Penafsiran Imam Nawawi tentang hadis ini dapat ditemukan di kitab Riyadhus Shalihin, bab ke-190, hadis nomor 1221. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Jika datang bulan Ramadan, dibukakanlah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan diikatlah setan-setan." (HR. Bukhari-Muslim)


Sahih Bukhari: Hadis pertama dan kedua terdapat di kitab Shahih Bukhari, dalam bab Fadhilah Shahri Ramadan, hadis nomor 38 dan 1899.

Sahih Muslim: Hadis pertama dan kedua juga terdapat di kitab Shahih Muslim, dalam bab Fadhail Ramadan, hadis nomor 760 dan 2490.

Sunan Tirmidzi: Hadis pertama terdapat di kitab Sunan Tirmidzi, dalam bab Fadhail Ramadan, hadis nomor 3546.

Sunan Ibnu Majah: Hadis pertama terdapat di kitab Sunan Ibnu Majah, dalam bab Fasting, hadis nomor 1747.

Tafsir Al-Qurtubi: Tafsir Al-Qurtubi merupakan salah satu tafsir terkenal dalam Islam. Tafsir ini membahas hadis kedua dalam tafsir Surat Al-Baqarah ayat 185.

Tafsir Ibn Kathir: Tafsir Ibn Kathir juga merupakan salah satu tafsir terkenal dalam Islam. Tafsir ini membahas hadis kedua dalam tafsir Surat Al-Baqarah ayat 185.

Bulughul Maram: Hadis pertama terdapat di kitab Bulughul Maram, dalam bab Fasting, hadis nomor 1796.

Riyadhus Shalihin: Hadis pertama dan kedua terdapat di kitab Riyadhus Shalihin, dalam bab Keutamaan Bulan Ramadan, hadis nomor 1188 dan 1189.


Penulis: Tgk: Safrizal, S.Sos

Dewan Guru Pesantren Modert Ulumul Islam Al-Aziziyah


Posting Komentar untuk "Bulan Puasa Syaitan-Syaitan Akan Di Ikat"