Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Bantahan Terhadap Pembagian Tauhid: Rububiyah Dan Uluhiyah Menurut Ibnu Taimiyah

Bantahan Terhadap Pembagian Tauhid


Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang Mahasuci dari kemiripan dan tandingan. Selawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya sekalian.

Amma Ba’du:

Ibnu Taimiyah telah membuat bid’ah (perkara baru) dengan membagi tauhid menjadi dua: Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah. Ia mengklaim bahwa orang-orang musyrik sebenarnya sudah mengakui Tauhid Rububiyah, dan mereka hanya berbuat syirik dalam Tauhid Uluhiyah. Pembagian ini kemudian diadopsi oleh pengikutnya dari kalangan Wahabi dan dijadikan sebagai pondasi utama dakwah mereka.

Pembagian ini adalah bid’ah yang diada-adakan, tidak memiliki dasar dalam Al-Qur'an, Sunnah, maupun perkataan para ulama Salaf. Bahkan, ini adalah pembagian yang batil (salah) yang dapat merusak akidah, sebagaimana akan kami jelaskan berikut ini.

I. Penjelasan Pembagian Tauhid Menurut Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Ar-Raddu 'alal Bakri (1/202):

أصل الدين هو عبادة الله وحده لا شريك له، وهو توحيد الإلهية، بخلاف توحيد الربوبية، فإن المشركين كانوا مقرين بأن الله خالقهم ورازقهم

"Pokok agama adalah beribadah kepada Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya, yaitu Tauhid Ilahiyah. Ini berbeda dengan Tauhid Rububiyah, karena orang-orang musyrik pun mengakui bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemberi Rezeki bagi mereka."

Ia mengklaim tauhid terbagi menjadi dua:

  1. Tauhid Rububiyah: Mengakui bahwa Allah adalah Sang Pencipta, Pemberi Rezeki, dan Pengatur alam.
  2. Tauhid Uluhiyah: Mengesakan Allah dalam ibadah.

Berdasarkan hal ini, ia beranggapan bahwa orang musyrik Arab telah bertauhid secara Rububiyah, namun mereka hanya syirik dalam hal Uluhiyah saja.

II. Kebatilan Pembagian Ini Secara Syariat dan Logika

1. Tidak Ada Dasarnya dalam Dalil

Al-Qur'an tidak pernah mengenal pembagian tauhid yang diada-adakan ini. Al-Qur'an memerintahkan tauhid secara mutlak (utuh) kepada Allah. Siapa pun yang menyekutukan Allah baik dalam hal ketuhanan (Rububiyah), penyembahan (Uluhiyah), maupun Nama dan Sifat-Nya maka ia adalah kafir yang musyrik.

2. Menyelisihi Hakikat Tauhid yang Sebenarnya

Menurut para imam kaum muslimin, Tauhid adalah: Menetapkan keberadaan zat Allah dengan meniadakan sekutu dan kemiripan bagi-Nya, menetapkan sifat-sifat yang layak bagi-Nya, serta mengesakan-Nya dalam hal penciptaan, rezeki, pengaturan, dan ibadah tanpa memisah-misahkan makna-makna tersebut.

  • Imam Abu Mansur al-Maturidi (w. 333 H) berkata dalam kitab At-Tauhid:

التوحيد هو الإقرار بأن الله واحد لا شريك له، لا في ذاته، ولا في صفاته، ولا في أفعاله.

"Tauhid adalah mengakui bahwa Allah itu Satu, tidak ada sekutu bagi-Nya, baik pada Zat-Nya, Sifat-Nya, maupun Perbuatan-Nya."

  • Imam al-Baihaqi (w. 458 H) berkata dalam kitab Al-I'tiqad:

التوحيد أن تعلم وتعتقد أنه لا خالق ولا مدبر سواه.

"Tauhid adalah engkau mengetahui dan meyakini bahwa tidak ada Pencipta maupun Pengatur selain Allah."

Maka, tauhid itu mencakup Rububiyah dan Uluhiyah sekaligus, tidak boleh dipisahkan.

3. Klaim bahwa Orang Musyrik Mengakui Rububiyah Bertentangan dengan Al-Qur'an

Allah Ta'ala menjelaskan bahwa orang musyrik juga mengingkari Tauhid Rububiyah. Allah berfirman:

وما يؤمن أكثرهم بالله إلا وهم مشركون

"Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya (dengan sembahan-sembahan lain)." (QS. Yusuf: 106).

Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) menjelaskan dalam Tafsir al-Kabir:

"كانوا يعترفون بالخالق والرازق والمدبر، ولكنهم يجعلون الأصنام شفعاء لهم، فهم مشركون حتى في ربوبية الله تعالى".

"Mereka memang mengakui adanya Pencipta dan Pengatur, tetapi mereka menjadikan berhala sebagai pemberi syafaat. Maka sebenarnya mereka juga berbuat syirik dalam hal Rububiyah (ketuhanan) Allah."

Jadi, pengakuan mereka terhadap penciptaan bukanlah iman yang murni, melainkan bercampur dengan kesyirikan.

4. Pembagian Ini Meremehkan Bahaya Syirik

Dengan pembagian yang batil ini, Ibnu Taimiyah seolah menganggap pengakuan terhadap Rububiyah saja sudah cukup untuk mengesahkan akar iman pada orang musyrik. Hal ini berujung pada peremehan terhadap dosa syirik. Kenyataannya, siapa yang tidak mengesakan Allah dalam Rububiyah, Uluhiyah, dan Sifat-Nya secara utuh, maka ia adalah musyrik yang ingkar.

III. Sanggahan Para Ulama terhadap Pembagian Ini

  • Imam as-Subki (w. 771 H) dalam kitab As-Saifush Shaqil:

"التوحيد أن يعتقد الإنسان أن الله واحد لا شريك له في الألوهية والربوبية معًا، فمن زعم تفريقًا بينهما فقد ابتدع في الدين ما ليس منه".

"Tauhid adalah keyakinan seseorang bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam Uluhiyah maupun Rububiyah secara bersamaan. Siapa yang memisahkan keduanya, maka ia telah melakukan bid’ah dalam agama yang tidak pernah ada dasarnya."

  • Imam as-Sanusi (w. 895 H) dalam Al-Aqidah al-Kubra:

"التوحيد نفي الشريك عن الله تعالى في ذاته وصفاته وأفعاله، فلا يكون معه خالق ولا رازق ولا معبود بحق".

"Tauhid adalah menafikan (meniadakan) sekutu bagi Allah pada Zat, Sifat, dan Perbuatan-Nya. Sehingga tidak ada Pencipta, Pemberi Rezeki, maupun Sembahan yang hak kecuali Dia."

Dengan demikian, para imam Ahlussunnah telah menetapkan bahwa Tauhid bersifat menyeluruh dan tidak menerima pembagian yang batil tersebut.

 

Posting Komentar untuk " Bantahan Terhadap Pembagian Tauhid: Rububiyah Dan Uluhiyah Menurut Ibnu Taimiyah"