Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Bid‘ah: Antara Makna Syariat dan Bahasa serta Sikap Moderat Salaf vs Ekstremisme Wahabi

 

Bid‘ah: Antara Makna Syariat dan Bahasa serta Sikap Moderat Salaf vs Ekstremisme Wahabi

Bid‘ah menjadi salah satu isu yang paling sering disalahpahami dalam diskusi keagamaan. Banyak perdebatan lahir karena kekeliruan dalam memaknai istilah ini, terutama ketika sebagian kelompok menilai bahwa setiap amalan baru otomatis tergolong sesat. Padahal, pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah jauh lebih luas dan bijaksana. Artikel ini menguraikan makna bid‘ah dari dua sisi bahasa dan syariat serta menjelaskan bagaimana para ulama klasik membedakannya dari pendekatan ekstrem kalangan Wahabi.

Pengertian Bid‘ah dalam Syariat dan Bahasa

1. Makna Bid‘ah secara Bahasa

Secara bahasa, bid‘ah berarti sesuatu yang baru dan belum pernah ada contohnya. Istilah ini digunakan dalam banyak konteks, baik yang positif maupun negatif. Karena itu, tidak semua hal baru otomatis termasuk perbuatan tercela.

2. Makna Bid‘ah Secara Syariat

Dalam syariat, bid‘ah adalah sesuatu yang diada-adakan dalam agama tanpa dasar dari Al-Qur’an, Sunnah, ijma‘, ataupun prinsip umum syariat. Inilah yang dimaksud sebagai bid‘ah tercela: amalan baru yang bertentangan dengan pokok ajaran Islam.

Ulama besar seperti Ibn Rajab menegaskan bahwa amalan baru yang memiliki dasar syariat tidak termasuk bid‘ah secara syar‘i, meskipun secara bahasa dapat disebut bid‘ah.

Pandangan Ibn Rajab tentang Bid‘ah

Ibn Rajab berkata bahwa bid‘ah tercela hanyalah perkara yang sama sekali tidak memiliki akar syariat. Adapun hal baru yang tetap berlandaskan prinsip agama tidak termasuk bid‘ah sesat.

Menurutnya:

والمراد بالبدعة: ‌ما ‌أُحْدِثَ ‌ممَّا ‌لا ‌أصل ‌له ‌في ‌الشريعة ‌يدلُّ ‌عليه، ‌فأمَّا ‌ما ‌كان ‌له ‌أصلٌ ‌مِنَ ‌الشرع ‌يدلُّ ‌عليه، ‌فليس ‌ببدعةٍ ‌شرعًا، ‌وإن ‌كان ‌بدعةً ‌لغةً،

جامع العلوم والحكم (2/ 127 ت الأرنؤوط)

“Bid‘ah adalah sesuatu yang diada-adakan tanpa dasar syariat. Adapun yang memiliki landasan meski bentuknya baru, maka bukan bid‘ah syar‘i.”

Pandangan ini menjadi kunci utama dalam membedakan antara pembaruan yang diperbolehkan dan pembaruan yang ditolak.

Dalil dari Masa Sahabat: Contoh Bid‘ah Bahasa yang Diterima Syariat

Para sahabat melakukan berbagai hal baru yang tidak dilakukan Nabi secara langsung, tetapi tetap diterima karena memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam.

1.Umar Menghidupkan Salat Tarawih Berjamaah

Ketika Umar memerintahkan masyarakat melakukan salat tarawih dengan satu imam, ia berkata:

فَقَالَ عُمَرُ: ‌نِعْمَتِ ‌الْبِدْعَةُ ‌هَذِهِ

موطأ مالك - رواية أبي مصعب الزهري (1/ 109)

“Inilah sebaik-baik bid‘ah.”

Umar menggunakan istilah “bid‘ah” dalam makna bahasa, bukan makna syar‘i, sebab dasar amalan itu sudah ada di masa Nabi.

2. Pengumpulan Al-Qur’an dalam Satu Mushaf

Dilakukan pada masa Abu Bakar atas usulan Umar. Zaid bin Tsabit pada awalnya ragu, tetapi akhirnya menyetujui ketika memahami maslahatnya dan dasar hukumnya.

3. Penambahan Adzan Pertama pada Salat Jumat

Ditambahkan oleh Utsman r.a. karena kebutuhan masyarakat, dan amalan ini disetujui oleh para sahabat lainnya.

4. Penetapan Waktu Pengajian

Nabi tidak menetapkan jadwal khusus untuk nasihat rutin, tetapi para sahabat membuat pola tertentu karena melihat manfaatnya bagi masyarakat.

Bid‘Ah Yang Tidak Memiliki Dasar: Mengurangi Sunnah Dan Merusak Agama

Sebagian ulama, seperti Ghudhaif ibn al-Harith, sangat berhati-hati terhadap amalan baru tanpa dasar syariat karena hal itu dapat menggeser sunnah yang lebih utama. Meskipun riwayat yang dinisbatkan kepadanya tidak terlalu kuat, maknanya selaras dengan prinsip bahwa amalan baru tanpa rujukan syariat harus ditolak.

Namun, ini tidak berarti semua hal baru tercela. Al-Hasan al-Bashri berkata tentang aktivitas penceramah (qashash):

وقول الحسن: "‌القصص ‌بدعة، ونعمت البدعة، كم فيها من أخ مستفاد، ودعاء مستجاب".

مجلة الجامعة الإسلامية بالمدينة المنورة (37/ 258 بترقيم الشاملة آليا)

“Al-Hasan berkata: ‘Kisah-kisah (aktivitas berceramah/penyampaian nasihat) adalah sebuah bid‘ah, dan sungguh itu adalah bid‘ah yang baik. Betapa banyak saudara (persaudaraan) yang didapat darinya, dan betapa banyak doa yang dikabulkan karenanya.’”

Pernyataan ini menunjukkan fleksibilitas ulama salaf dalam menilai amalan baru selama masih berada dalam koridor agama.

Kekeliruan Pendekatan Wahabi dalam Memahami Bid‘ah

Ekstremisme dalam masalah bid‘ah muncul ketika sebagian kelompok menganggap setiap hal baru pasti sesat. Mereka tidak membedakan antara bid‘ah bahasa dan bid‘ah syariat, lalu dengan mudah menuduh orang lain menyimpang.

adahal banyak ulama besar Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa bid‘ah tidak selalu tercela. Bahkan al-Nawawi menyebut dalam Syarah Muslim bahwa bid‘ah terbagi menjadi lima:

  • Wajib
  • Sunnah (mandub)
  • Haram
  • Makruh
  • Mubah

Pembagian ini diterima oleh ulama besar seperti al-‘Izz ibn Abd al-Salam, Ibn Hajar al-‘Asqalani, dan Ibn al-Jauzi. Ibn al-Jauzi bahkan menyatakan bahwa mereka yang tidak membedakan bid‘ah baik dan bid‘ah buruk justru telah menyimpang dari jalan para ulama.

Manhaj Moderat Ahlus Sunnah dalam Isu Bid‘ah

Ahlus Sunnah bersikap moderat dan tidak ekstrem dalam memahami bid‘ah. Mereka tidak menolak semua hal baru begitu saja, juga tidak menerima apa pun yang diada-adakan tanpa pedoman.

Kaidah yang Disepakati Ulama:

“Setiap amalan baru harus ditimbang dengan syariat.”

Jika suatu perkara memiliki dasar dari:

  • Al-Qur’an
  • Sunnah
  • Ijma‘
  • Qiyas sahih
  • Praktik sahabat

maka amalan itu dapat diterima meski bentuknya baru.

Namun jika tidak memiliki landasan apa pun, maka wajib ditolak sebagai bid‘ah sesat.

Kesimpulan

Permasalahan bid‘ah bukanlah hitam-putih sebagaimana diklaim sebagian kelompok ekstrem. Para sahabat, tabi‘in, dan ulama Ahlus Sunnah telah memberikan panduan moderat dalam menilai setiap pembaruan. Amalan yang memiliki dasar syariat diterima, sementara yang tidak memiliki dasar harus ditolak.

Pendekatan inilah yang menjaga keseimbangan dan mencegah umat dari sikap keras serta tuduhan sesat yang tidak berdasar.

“Allah menyampaikan kebenaran dan Dia-lah yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus.”

Posting Komentar untuk "Bid‘ah: Antara Makna Syariat dan Bahasa serta Sikap Moderat Salaf vs Ekstremisme Wahabi"