Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Bid‘ah Hasanah: Contoh Amalan Para Sahabat dan Dasar Pensyariatannya

 

Bid‘ah Hasanah: Contoh Amalan Para Sahabat dan Dasar Pensyariatannya

Artikel ini mengulas makna bid‘ah menurut syariat dan bahasa, contoh amalan sahabat seperti Bilal bin Rabah r.a., serta penjelasan ulama salaf tentang ijtihad dalam ibadah sunnah. Kajian moderat dan ilmiah yang membedakan bid‘ah sesat dan bid‘ah hasanah sesuai dasar syariat.

Pembahasan tentang bid‘ah sering kali menimbulkan kesalahpahaman. Banyak orang cenderung menyamaratakan semua hal baru sebagai bid‘ah sesat, padahal para sahabat Rasulullah sendiri melakukan sejumlah amalan baru yang disetujui oleh Nabi. Salah satu contohnya adalah amalan mulia yang dilakukan oleh Bilal bin Rabah r.a., yang diabadikan dalam Shahih al-Bukhari. Tulisan ini membahas dalil penting tersebut sekaligus menjelaskan bagaimana ulama memahami konsep “bid‘ah terpuji”.

Hadis Bilal: Contoh Ijtihad Ibadah yang Disetujui Nabi

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya (nomor 1149): "Bab: Keutamaan Bersuci di Malam dan Siang Hari, serta Keutamaan Shalat Setelah Bersuci di Malam dan Siang Hari":

- حدَّثنا إِسْحاقُ بنُ نَصْرٍ: حدَّثنا أَبُو أُسامَةَ، عن أَبِي حَيَّانَ، عن أَبِي زُرْعَةَ:

عن أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قالَ لِبِلالٍ عِنْدَ صَلاةِ الفَجْرِ: «‌يا ‌بِلالُ، ‌حدِّثني ‌بِأَرْجَى ‌عَمَلٍ ‌عَمِلْتَهُ ‌فِي ‌الإِسْلامِ، ‌فَإِنِّي ‌سَمِعْتُ ‌دَفَّ ‌نَعْلَيْكَ ‌بَيْنَ ‌يَدَيَّ ‌فِي ‌الجَنَّةِ». قالَ: ما عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ(1) أَتَطَهَّرْ طُهُورًا، فِي ساعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهارٍ، إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ ما كُتِبَ لِي(2) أَنْ أُصَلِّيَ.

قالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ: دَفَّ نَعْلَيْكَ، يَعْنِي: تَحْرِيكَ.(3) صحيح البخاري (1/ 584 بترقيم الشاملة آليا)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu: Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi [wa aalihi] wa sallam bersabda kepada Bilal ketika waktu shalat Subuh:

"Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang amalan yang paling engkau harapkan (pahalanya) yang telah engkau kerjakan dalam Islam, karena sesungguhnya aku mendengar suara terompah (langkah kaki/sandal)-mu di hadapanku di dalam Surga?!"

 

Bilal menjawab:

"Tidaklah aku melakukan suatu amalan yang lebih aku harapkan di sisiku, melainkan (ini): Aku tidaklah_bersuci_(wudu) pada waktu malam ataupun siang hari, kecuali aku shalat dengan bersuci tersebut (sebanyak rakaat) yang telah ditakdirkan bagiku untuk shalat."

Abu Abdillah (Imam Al-Bukhari) berkata: Kata "Daffa na’laika", artinya: gerakan (langkah kaki)-mu.

Hafiz Ibn Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) menegaskan bahwa hadis Bilal menunjukkan:

((وَيُسْتَفَادُ مِنْهُ #جَوَازُ_الِاجْتِهَادِ_فِي_تَوْقِيتِ_الْعِبَادَةِ، لِأَنَّ بِلَالًا تَوَصَّلَ إِلَى مَا ذَكَرْنَا بِالِاسْتِنْبَاطِ فَصَوَّبَهُ الْنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ [وَآلِهِ] وَسَلَّمَ...عِنْدَ الْتِّرْمِذِيِّ وابْن خُزَيْمَةَ مِنْ حَدِيثِ بُرَيْدَةَ فِي نَحْوِ هَذِهِ الْقِصَّةِ: "مَا أَصَابَنِي حَدَثٌ قَطُّ إِلَّا تَوَضَّأْتُ عِنْدَهَا" وَلِأَحْمَدَ مِنْ حَدِيثِهِ: "مَا أَحْدَثْتُ إِلَّا تَوَضَّأْتُ وَصَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ" فَدَلَّ عَلَى أَنَّهُ كَانَ يُعْقِبُ الْحَدَثَ بِالْوُضُوءِ، وَالْوُضُوءُ بِالْصَّلَاةِ فِي أَيِّ وَقْتٍ كَانَ))

فَتْحُ الْبَارِي بِشَرْحِ صَحِيحِ الْبُخَارِي لِلْحَافِظ اِبْن حَجَر الْعَسْقَلاَنِي (3 /34-35)، الْمَطْبَعَةُ الْسَّلَفِيَّةِ

“Bolehnya berijtihad dalam menentukan waktu ibadah sunnah, karena Bilal menetapkan jadwal ibadah berdasarkan pemahaman pribadi, dan Nabi membenarkannya.”

Hal ini diperkuat oleh riwayat-riwayat lain dari Tirmidzi, Ibn Khuzaimah, dan Ahmad, yang menggambarkan bahwa Bilal senantiasa berwudu setiap batal dan kemudian melaksanakan salat dua rakaat setelahnya di waktu apa pun.

Pelajaran dari Amalan Bilal r.a.

1. Ijtihad dalam Menetapkan Pola Ibadah Sunnah

Bilal membuat kebiasaan pribadi yang tidak ditentukan oleh Nabi, namun tetap berada dalam koridor syariat. Tidak ada dalil khusus yang melarangnya, dan dasar umumnya terdapat dalam banyak anjuran memperbanyak ibadah.

2. Menetapkan Cara Ibadah yang Tidak Dilakukan Nabi

Nabi tidak menetapkan amalan “dua rakaat setiap wudu” sebagai aturan khusus. Namun ketika Bilal mengamalkannya, beliau menyetujuinya. Ini menunjukkan fleksibilitas syariat dalam persoalan ibadah sunnah.

Jawaban terhadap Syubhat: “Ini Khusus karena Ada Persetujuan Nabi”

Sebagian orang berpendapat:

“Bilal boleh melakukannya karena Nabi mengetahui dan menyetujuinya. Kita tidak boleh membuat amalan baru karena Nabi tidak ada untuk mengoreksi.”

Pendapat ini dijawab oleh para ulama sebagai berikut:

1. Persetujuan Nabi terhadap ibadah itu sendiri

Salat adalah ibadah yang disyariatkan secara umum, dan melakukannya setelah wudu adalah bentuk ibadah yang dianjurkan.

2. Persetujuan Nabi terhadap penjadwalan ibadah yang dilakukan Bilal

 Nabi membenarkan kebiasaan Bilal menetapkan waktu ibadah tertentu berdasarkan ijtihadnya, meskipun Nabi sendiri tidak menetapkan waktu tersebut.

Poin penting:

Bilal melakukan ijtihad tanpa meminta izin terlebih dahulu, kemudian Nabi membenarkannya.

Hadis ini secara kuat menunjukkan bahwa amalan baru tidak otomatis menjadi bid‘ah sesat, tetapi harus dinilai berdasarkan kesesuaiannya dengan prinsip agama.

Kaidah Besar dalam Memahami Bid‘ah

1. Tidak setiap amalan baru itu sesat

Yang tercela hanyalah amalan baru yang bertentangan dengan dasar-dasar syariat.

2. Ijtihad dibolehkan selama berada dalam prinsip umum syariat

Selama satu amalan:

  • tidak melanggar dalil,
  • tidak dilakukan di waktu terlarang,
  • berada dalam dasar umum nash,
  • maka amalan itu boleh dilakukan.

3. Nabi tidak mungkin melakukan semua bentuk ibadah sunnah yang mungkin dilakukan

Tujuan nash-nash umum dalam syariat adalah memberikan ruang ijtihad bagi umat. Hadis Bilal menjadi contoh nyata bahwa ibadah sunnah memiliki ruang fleksibilitas.

Pandangan Ulama tentang Bid‘ah Hasanah

Imam Abu Syamah (w. 665 H) memasukkan amalan Bilal ke dalam kategori:

((وَمِنْ هَذَا الْبَابِ [الْبِدَعِ الْحَسَنَةِ]: إِقْرَاره صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ [وَآلِهِ] وَسَلَّمَ بِلَالًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَلَى صَلَاتِهِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ كُلِّ وُضُوءٍ، وَإِنْ كَانَ هُوَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ [وَآلِهِ] وَسَلَّمَ #لَـمْ_يُشَرِّعْ_خُصُوصِيَّة_ذَلِكَ_بِقَوْلٍ_وَلَا_فِعْلٍ، وَذَلِكَ لِأَنَّ بَابَ #الْتَّطَوُّعِ_بِالْصَّلَاةِ_مَفْتُوحٌ إِلَّا فِي الْأَوْقَاتِ الْـمَكْرُوهَةِ))

الْبَاعِث عَلَى إِنْكَارِ الْبِدَعِ وَالْحَوَادِث (ص:22)، طَبْع وَنَشْر: مَطْبَعَةُ الْنَّهْضَةِ الْـحَدِيثَة بِـمَكَّة، الْطَّبْعَة الْثَّانِيَة: 1401هـ-1981م

Dan termasuk dalam bab ini [Bid'ah Hasanah]: Persetujuan (ikrar) Nabi shallallahu ‘alaihi [wa aalihi] wa sallam terhadap Bilal radhiyallahu ‘anhu atas shalat dua rakaat yang dilakukannya setiap kali selesai wudu, walaupun Beliau (Nabi) shallallahu ‘alaihi [wa aalihi] wa sallam tidak_mensyariatkan_kekhususan_hal_tersebut_baik_melalui_ucapan_maupun_perbuatan. Dan hal itu dikarenakan pintu #shalat_sunnah_(tathawwu)_itu_terbuka kecuali pada waktu-waktu yang dimakruhkan 

Kesimpulan: Amalan Bilal sebagai Dalil Kuatnya Ruang Ijtihad

  • Amalan baru tidak otomatis menjadi bid‘ah sesat.
  • Ijtihad yang sesuai dengan prinsip umum syariat diperbolehkan.
  • Nabi memberikan contoh langsung dengan membenarkan kebiasaan Bilal.
  • Syariat bersifat luas dan memberi ruang kreativitas dalam ibadah sunnah.

Hadis Bilal menjadi landasan penting dalam memahami bahwa bid‘ah memiliki klasifikasi, dan sebagian bid‘ah dapat masuk kategori bid‘ah yang terpuji.

 

Posting Komentar untuk "Bid‘ah Hasanah: Contoh Amalan Para Sahabat dan Dasar Pensyariatannya"