Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Dalil-Dalil Tabarruk Menurut Al-Qur’an, Hadis, dan Ulama

 

Dalil Tabarruk Menurut Al-Qur'an dan Hadis


Tabarruk adalah mencari berkah melalui sesuatu yang dimuliakan dalam syariat. Artikel ini membahas dalil-dalil tabarruk lengkap dari Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan ulama Ahlussunnah. Disertai contoh, batasan, dan klarifikasi kesalahpahaman.

Tabarruk mengambil keberkahan melalui sesuatu yang berkaitan dengan Nabi atau para hamba saleh merupakan praktik yang banyak sekali dalilnya dalam hadis sahih. Sayangnya, sebagian kelompok tergesa-gesa menuduh tabarruk sebagai perbuatan syirik, padahal dalil-dalil jelas menunjukkan kebolehannya dan para sahabat sendiri melakukannya.

 Dalam kitab  sahih Bukhari menjelaskan bolehnya Mengambil berkah/tabarruk:

 أنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ كانَتْ تَبْسُطُ للنَّبيِّ ﷺ نِطَعًا، فَيَقِيلُ عِنْدَها على ذلكَ النِّطَعِ. قالَ: فَإِذا نامَ النَّبيُّ ﷺ أخَذَتْ مِن عَرَقِهِ وشَعَرِهِ، فَجَمَعتْهُ في قارُورَةٍ، ثُمَّ جَمعتْهُ في سُكٍّ. قالَ: فَلَمّا حَضَرَ أنَسَ بنَ مالِكٍ الوَفاةُ، أوْصى إلَيَّ أنْ يُجْعَلَ في حَنُوطِهِ مِن ذلكَ السُّكِّ. قالَ: فَجُعِلَ في حَنُوطِهِ.

الراوي: أنس بن مالك • البخاري، صحيح البخاري (٦٢٨١) • [صحيح] • أخرجه مسلم (٢٣٣١) باختلاف يسير

 “Ummu Sulaim biasa membentangkan sebuah tikar kulit untuk Nabi , dan beliau beristirahat siang di rumahnya di atas tikar tersebut. Anas berkata: Apabila Nabi tertidur, Ummu Sulaim mengambil keringat beliau dan rambut beliau, lalu mengumpulkannya dalam sebuah botol kecil, kemudian menyimpannya dalam sebuah sukk (wadah kecil berisi minyak wangi).

 Ketika Anas bin Malik menjelang wafat, ia berwasiat kepadaku agar sebagian dari sukk itu dicampurkan ke dalam pengharum jenazahnya. Maka hal itu pun dilakukan, dan sukk tersebut dicampurkan ke dalam pengharum jenazahnya.”

  Diriwayatkan oleh Anas bin Malik

Shahih al-Bukhari no. 6281

Shahih.

Juga diriwayatkan oleh Muslim no. 2331 dengan sedikit perbedaan redaksi.

 Bolehnya mengambil keberkahan kepada orang-orang saleh juga disebutkan dalam kitab berikut:

Fathul Bari karya Ibn Hajar al-Asqalani Menjelaskan bolehnya Mengambil berkah:

واستنبط منه الإسماعيلي جواز طلب آثار أهل الخير منهم للتبرك بها وَإِن كَانَ السَّائِل غَنِيًّا .

فتح الباري بشرح البخاري - ط السلفية ٣/‏١٣٩

Ibn Hajar berkata: “Dan al-Ismā‘īlī menyimpulkan darinya bolehnya meminta atsar (bekas-bekas) orang-orang saleh untuk mencari berkah darinya, sekalipun orang yang meminta itu adalah seorang yang kaya." ( Fath al-Bārī bi Syarh al-Bukhārī, cetakan al-Salafiyyah, 3/139.)

Dan Juga Dari Kahlid Bin Walid

‌وَكَانَتْ ‌شَعَرَاتٌ ‌مِنْ ‌شَعْرِهِ ‌فِي ‌قَلَنْسُوَةِ ‌خَالِدِ ‌بْنِ ‌الْوَلِيدِ  فَلَمْ يَشْهَدْ بِهَا قِتَالًا إِلَّا رُزِقَ النَّصْرَ.

الشفا بتعريف حقوق المصطفى - محذوف الأسانيد (1/ 637)

“Dan terdapat beberapa helai rambut Nabi pada penutup kepala Khalid bin al-Walid. Maka tidaklah ia menghadiri suatu peperangan dengan mengenakannya melainkan ia pasti dianugerahi kemenangan.” (al-Syifā’ bi Ta‘rīf Ḥuqūq al-Muṣṭafā, tanpa sanad, jilid 1, halaman 637.)

اعتَمَرنا مع رسولِ اللهِ ﷺ فحلق شَعرَه فاستبَقَ النّاسُ إلى شَعرِه، فسَبَقتُ إلى النّاصيةِ فأخذتُها فاتَّخَذتُ قَلَنْسُوةً فجَعَلتُها في مُقَدِّمةِ القَلَنْسُوةِ، فما وجَّهتُ في وَجهٍ إلّا فُتِح لي.

الراوي: خالد بن الوليد • محمد ابن يوسف الصالحي، سبل الهدى والرشاد (١٠/٣٩) • إسناده صحيح • أخرجه أبو يعلى (٧١٨٣)، باختلاف يسير، والطبراني (٣٨٠٤) (٤/ ١٠٤)، والحاكم (٥٢٩٩)، بنحوه.

Kami melakukan umrah bersama Rasulullah ﷺ, lalu beliau mencukur rambutnya. Maka orang-orang saling berlomba mendapatkan rambut beliau. Aku pun berhasil mengambil bagian rambut nashiyah (rambut depan kepala), lalu aku menjadikannya sebagai penutup kepala (qalansuwah). Aku meletakkannya di bagian depan penutup kepalaku itu.

Maka tidaklah aku menghadapkan diriku ke suatu arah dalam peperangan melainkan Allah membukakan kemenangan bagiku.”

Diriwayatkan oleh Khalid bin al-Walid.

Subul al-Hudā wa ar-Rashād karya Muhammad bin Yusuf ash-Shalihi (10/39).

Sanadnya sahih.

Dikeluarkan juga oleh Abu Ya‘la (no. 7183) dengan sedikit perbedaan lafal, oleh ath-Thabarani (4/104) no. 3804, dan oleh al-Hakim (no. 5299) dengan makna serupa.

[حَدِيثُ خَرَجَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَيْهِ حُلَّةٌ حَمْرَاءُ فَتَوَضَّأَ وَأَذَّنَ بِلَالٌ]

قَوْلُهُ " عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ وَهْبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ " هُوَ الْمَشْهُورُ. وَقِيلَ: وَهْبُ بْنُ جَابِرٍ وَقِيلَ: وَهْبُ بْنُ وَهْبٍ، وَالسُّوَائِيُّ فِي نَسَبِهِ - مَضْمُومُ السِّينِ مَمْدُودٌ - نِسْبَةً إلَى سُوَاءَةَ بْنِ عَامِرِ بْنِ صَعْصَعَةَ. مَاتَ فِي إمَارَةِ بِشْرِ بْنِ مَرْوَانَ بِالْكُوفَةِ وَقِيلَ: سَنَةَ أَرْبَعٍ وَسَبْعِينَ. وَالْكَلَامُ عَلَيْهِ مِنْ وُجُوهٍ:

أَحَدُهَا: قَوْلُهُ " فَخَرَجَ بِلَالٌ بِوَضُوءٍ " بِفَتْحِ الْوَاوِ بِمَعْنَى الْمَاءِ، وَهَلْ هُوَ اسْمٌ لِمُطْلَقِ الْمَاءِ، أَوْ بِقَيْدِ الْإِضَافَةِ إلَى الْوُضُوءِ؟ فِيهِ نَظَرٌ، قَدْ مَرَّ.

وَقَوْلُهُ " فَمِنْ نَاضِحٍ وَنَائِلٍ " النَّضْحُ: الرَّشُّ. قِيلَ: مَعْنَاهُ أَنَّ بَعْضَهُمْ كَانَ يَنَالُ مِنْهُ مَا لَا يَفْضُلُ مِنْهُ شَيْءٌ. وَبَعْضَهُمْ كَانَ يَنَالُ مِنْهُ مَا يَنْضَحُهُ عَلَى غَيْرِهِ. وَتَشْهَدُ لَهُ الرِّوَايَةُ الْأُخْرَى فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ " فَرَأَيْتُ بِلَالًا أَخْرَجَ وَضُوءًا. فَرَأَيْتُ النَّاسَ يَبْتَدِرُونَ ذَلِكَ الْوَضُوءَ. فَمَنْ أَصَابَ مِنْهُ شَيْئًا تَمَسَّحَ بِهِ. وَمَنْ لَمْ يُصِبْ مِنْهُ أَخَذَ مِنْ بَلَلِ يَدِ صَاحِبِهِ ".

الثَّانِي: ‌يُؤْخَذُ ‌مِنْ ‌الْحَدِيثِ ‌الْتِمَاسُ ‌الْبَرَكَةِ ‌بِمَا ‌لَابَسَهُ ‌الصَّالِحُونَ ‌بِمُلَابَسَتِهِ. ‌فَإِنَّهُ ‌وَرَدَ ‌فِي ‌الْوَضُوءِ ‌الَّذِي ‌تَوَضَّأَ ‌مِنْهُ ‌النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم. ‌وَيُعَدَّ ‌بِالْمَعْنَى ‌إلَى ‌سَائِرِ ‌مَا ‌يُلَابِسُهُ ‌الصَّالِحُونَ.

الثَّالِثُ: قَوْلُهُ " فَجَعَلْتُ أَتَتَبَّعُ فَاهُ هَهُنَا وَهَهُنَا، يُرِيدُ يَمِينًا وَشِمَالًا " فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى اسْتِدَارَةِ الْمُؤَذِّنِ لِلِاسْتِمَاعِ عِنْدَ الدُّعَاءِ إلَى الصَّلَاةِ. وَهُوَ وَقْتُ التَّلَفُّظِ بِالْحَيْعَلَتَيْنِ.

إحكام الأحكام شرح عمدة الأحكام (1/ 205)

 

Hadis tentang Nabi keluar mengenakan pakaian merah, lalu berwudhu, dan Bilal mengumandangkan azan

Ucapan beliau: “Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdillah.”

Itulah nama yang masyhur. Ada pula yang mengatakan: Wahb bin Jābir. Dan ada pula yang mengatakan: Wahb bin Wahb.

Adapun penyandaran nisbat as-Suwa’i pada namanya  huruf sin-nya dibaca ḍammah dan panjang   dinisbatkan kepada Suwa’ah bin ‘Āmir bin Sha‘sha‘ah.

Ia wafat pada masa pemerintahan Bisyr bin Marwān di Kufah, dan ada yang mengatakan: pada tahun 74 H.

Kemudian pembicaraan mengenai hadis ini ditinjau dari beberapa sudut:

Pertama:

Ucapannya: “Lalu Bilal keluar membawa wudhu’”, dibaca dengan membuka huruf wawu, bermakna air wudhu.

Apakah kata “wudhu’” di sini berarti nama untuk air secara mutlak ataukah air yang dinisbatkan khusus kepada wudhu?

Di dalamnya terdapat kemungkinan, dan pembahasan ini telah lewat sebelumnya.

Ucapannya: “Maka ada yang mendapatkan cipratan (nāḍiḥ) dan ada yang mendapatkan percikan (nā’il).”

Kata an-naḍḥ berarti percikan atau siraman.

Ada yang mengatakan maknanya: Sebagian dari mereka ada yang mendapatkan air wudhu tersebut hingga tidak tersisa untuk orang lain. Sebagian lain hanya mendapatkan percikan yang ia siramkan kepada orang lain.

Hal ini diperkuat oleh riwayat lain dalam hadis sahih:

Aku melihat Bilal mengeluarkan air wudhu. Lalu aku melihat orang-orang berebut air wudhu itu. Siapa yang mendapatkan sedikit darinya, ia mengusap dirinya dengan air tersebut. Dan siapa yang tidak mendapatkannya, ia mengambil kelembapan dari tangan sahabatnya.”

Kedua:

Dari hadis ini diambil pelajaran tentang mencari keberkahan melalui sesuatu yang disentuh atau dikenakan oleh orang-orang saleh karena bersentuhan dengannya.

Hal ini sebagaimana dalam riwayat tentang air wudhu yang telah digunakan Nabi .

Dan makna ini berlaku pula pada seluruh benda yang disentuh atau digunakan oleh orang-orang saleh.

Ketiga:

Ucapannya: “Aku mengikuti arah mulutnya ke sana dan ke sini  maksudnya ke kanan dan ke kiri.” Dalam hal ini terdapat dalil bahwa muazin menghadap ke berbagai arah agar suaranya dapat didengar ketika menyeru untuk shalat, dan itu dilakukan saat melafalkan dua kalimat hay‘alah (ḥayya ‘alaṣ-ṣalāh, ḥayya ‘alal-falāḥ).  (Iḥkām al-Aḥkām, Syarah ‘Umdat al-Aḥkām (1/205)

Dan juga Imam Al-Bayhaqi.

وروى البيهقي في "المناقب"(2) عن علي بن محمد بن بدر قال: "‌صلَّيتُ ‌يومَ ‌الجُمُعة ‌فإذا ‌أحمدُ ‌بن ‌حنبل ‌يقرب ‌مني، ‌فقام ‌سائل ‌فسأله(3)، ‌فأعطاه ‌أحمدُ ‌قِطعة، ‌فلما ‌فرغوا ‌مِن ‌الصلاة، ‌قام ‌رَجُلٌ ‌إلى ‌ذلك ‌السائل، ‌وقال: ‌أعطني ‌تلك ‌القِطعة، ‌فأبى، ‌فقال: ‌أعطني ‌وأعطيك ‌دِرهمًا، ‌فلم ‌يفعل، ‌فما ‌زال ‌يزيده ‌حتى ‌بلغ ‌خمسين ‌درهمًا، ‌فقال: ‌لا ‌أفعلُ، ‌فإني ‌أرجو ‌مِن ‌بركة ‌هذه ‌القطعة ‌ما ‌ترجو ‌أنت"(4

كشاف القناع (5/ 422 ط وزارة العدل)

Al-Bayhaqi meriwayatkan dalam al-Manāqib, dari ‘Ali bin Muhammad bin Badr, ia berkata:

“Aku pernah shalat Jumat, dan ternyata Ahmad bin Hanbal berada dekat denganku.

Lalu datang seorang pengemis dan meminta (sedekah), maka Ahmad memberikan kepadanya sepotong (kain atau barang).

Ketika selesai shalat, seorang lelaki mendatangi pengemis itu dan berkata:

‘Berikan kepadaku potongan itu.’

Namun pengemis tersebut menolak.

Lelaki itu berkata lagi:

‘Berikan kepadaku, nanti aku berikan satu dirham.’

Pengemis itu tetap tidak mau.

Ia terus menambah tawarannya hingga mencapai lima puluh dirham, namun pengemis itu tetap menolak dan berkata: ‘Aku mengharap keberkahan dari potongan (barang) ini sebagaimana engkau pun mengharapkannya.’”  Kasyyāf al-Qinā‘, 5/422, cet. Kementerian Kehakiman.

 

Kesimpulan

Dalil-dalil yang telah dikemukakan menunjukkan bahwa tabarruk mengambil keberkahan melalui atsar Nabi dan para hamba saleh merupakan praktik yang sah dalam syariat dan memiliki dasar kuat dari hadis-hadis sahih. Para sahabat sendiri, seperti Anas bin Malik dan Khalid bin al-Walid, secara nyata melakukan tabarruk dengan keringat, rambut, dan peninggalan Nabi , bahkan menjadikannya sebab keberkahan dan pertolongan Allah. Para ulama besar, seperti Ibn Hajar al-Asqalani, al-Isma‘ili, dan Imam Ahmad bin Hanbal, menegaskan kebolehan mengambil keberkahan dari peninggalan orang-orang saleh, selama tidak disertai keyakinan syirik. Karena itu, menuduh praktik tabarruk sebagai kesyirikan sama dengan menuduh para sahabat Nabi telah melakukan syirik, padahal mereka adalah generasi yang paling memahami tauhid. Dengan demikian, tabarruk merupakan amalan yang dibolehkan, memiliki dasar kuat, dan tidak keluar dari prinsip tauhid sebagaimana dipahami generasi awal umat.

 

Penulis: Tgk Safrizal,S.Sos


 


Posting Komentar untuk "Dalil-Dalil Tabarruk Menurut Al-Qur’an, Hadis, dan Ulama"