Kesalahan Konsep Tauhid Rububiyah Dalam Pemikiran Ibnu Taimiyah Dan Wahhabisme
Pertama: Penjelasan Akar Kekeliruan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Abdil Wahhab
Ibnu Taimiyah (dan
para pengikutnya) membangun argumennya di atas pencampuran yang disengaja
antara "pengakuan kaum musyrik terhadap Tauhid Rububiyah" dengan
"Tauhid yang dibawa oleh para Rasul". Ia luput—atau sengaja
meluputkan diri—dari fakta bahwa para Rasul datang membawa Tauhid Ibadah
(Uluhiyah), bukan sekadar mengukuhkan Rububiyah. Ini adalah prinsip yang
masyhur di kalangan para imam Islam.
Imam Al-Qadhi
Abu Bakar al-Baqillani (wafat 403 H) berkata:
واعلم
أن توحيد الله تعالى يقتضي الإقرار بربوبيته ونفي الأنداد والأشباه عنه، وإنما
أشرك المشركون بإثباتهم الأنداد مع الإقرار بالربوبية
"Ketahuilah
bahwa mentauhidkan Allah Ta'ala menuntut pengakuan atas Rububiyah-Nya serta
meniadakan tandingan dan keserupaan bagi-Nya. Sesungguhnya kaum musyrik telah
berbuat syirik karena menetapkan adanya tandingan-tandingan di samping
pengakuan mereka terhadap Rububiyah." (Al-Inshaf, hal. 38)
Maka, tidak
setiap orang yang mengakui Rububiyah secara otomatis menjadi seorang muwahhid
(orang yang bertauhid), karena yang dituntut adalah Tauhid Uluhiyah (Ibadah).
Kedua: Kaum Musyrik Mendustakan Rasul, Menyembah Selain Allah, dan Mengambil Perantara Syirik
Ibnu Taimiyah
mengabaikan atau sengaja menutupi puluhan ayat yang membongkar kekufuran kaum
musyrik, di antaranya:
- Pendustaan mereka terhadap hari
kebangkitan dan hari akhir. Allah Ta'ala berfirman: "Dan dia
membuat perumpamaan bagi Kami dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata:
'Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur
luluh?'" (QS. Yasin: 78).
- Penyembahan berhala dengan niat
mendekatkan diri kepada Allah. Allah Ta'ala berfirman: "Kami
tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada
Allah dengan sedekat-dekatnya." (QS. Az-Zumar: 3).
- Menisbatkan anak kepada Allah
Azza wa Jalla. Allah
Ta'ala berfirman: "Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin
itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan
mereka membohong (dengan mengatakan) bahwasanya Allah mempunyai anak
laki-laki dan anak perempuan tanpa berdasar ilmu pengetahuan."
(QS. Al-An'am: 100).
- Mencela Allah Ta'ala. Allah Ta'ala berfirman: "Dan
janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah,
karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa
pengetahuan." (QS. Al-An'am: 108).
Maka, akal mana
yang bisa menerima pernyataan bahwa musyrik Quraisy adalah orang-orang muwahhid
atau tidak memiliki dosa kecuali sekadar mengambil perantara (wasilah)?!
Ketiga: Kelompok Wahhabi Menjadikan Kekeliruan Ini Sebagai Dalih untuk Mengkafirkan Muslim
Ketika Ibnu
Abdil Wahhab mengadopsi kerancuan Ibnu Taimiyah, ia membangun landasan bahwa
seorang Muslim yang meminta doa atau syafaat melalui Rasulullah SAW atau wali
yang saleh dianggap sama seperti musyrik zaman dahulu, bahkan lebih parah. Ini
adalah qiyas (analogi) yang rusak:
- Muslim yang muwahhid meyakini bahwa Allah Ta'ala
adalah Sang Pencipta dan Pemberi Rezeki, tidak ada yang disembah selain
Allah. Ia ber-istighatsah kepada para wali dalam artian meminta doa dan
syafaat, bukan dalam artian menyembah. Ini adalah perbedaan mendasar
antara Muslim dan Musyrik.
- Orang musyrik memberikan ibadah kepada
selain Allah secara hakiki sebagaimana dinyatakan Al-Qur'an. Sedangkan
seorang Muslim dalam tujuannya ber-istighatsah tidak memalingkan ibadah
kepada wali, melainkan menjadikannya pemberi syafaat kepada Allah.
Keempat: Kerancuan Mereka dalam Memuji Kaum Musyrik dan Mencela Ulama Muslim
Sebagaimana
yang telah Anda sebutkan dengan sangat baik, Ibnu Abdil Wahhab dan anak cucunya
tidak cukup hanya mengkafirkan umat Islam secara umum, tetapi mereka juga
memuji kaum musyrik Quraisy. Maka lahirlah persamaan yang aneh dari mereka:
- Kaum Musyrik = "Lebih
Baik" karena
mereka tidak menyembah kuburan (!!).
- Muslim Asy'ariyah = "Lebih
Buruk" karena
mereka meminta doa dari para wali (!!).
Hal ini
membongkar kesesatan mereka, karena Allah Ta'ala telah berfirman: "Sesungguhnya
orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu
beri peringatan, mereka tidak akan beriman." (QS. Al-Baqarah: 6).
Kafir tetaplah
kafir, dan tidak diperbolehkan sama sekali mengunggulkan orang kafir di atas
orang Muslim.
Keempat: Penyesatan Mereka dalam Membedakan antara "Ilah" (Tuhan Sembahan) dan "Rabb" (Tuhan Pencipta)
Ibnu Taimiyah
berusaha memberi kesan bahwa perselisihan hanya terjadi pada masalah
"Uluhiyah" dan bukan "Rububiyah". Namun, penelitian
menunjukkan bahwa Uluhiyah dan Rububiyah adalah dua hal yang tidak terpisahkan
(متلازمتان) bagi bangsa Arab terdahulu. Mereka
menetapkan sifat penciptaan bagi Allah tetapi tidak mentauhidkan-Nya dalam
ibadah, sehingga mereka menjadi musyrik dengan syirik yang mengeluarkan dari
agama.
Imam Al-Baihaqi
(wafat 458 H) berkata:
اعلم
أن أكثر كفر بني آدم من جهة التشبيه والقياس الفاسد وترك ما جاء به الرسول، وإيثار
التقليد ومتابعة الهوى، وليس الكفر كله عنادًا
"Ketahuilah
bahwa mayoritas kekufuran anak cucu Adam berasal dari sisi penyerupaan (tasybih),
analogi yang rusak (qiyas fasid), meninggalkan apa yang dibawa oleh Rasul,
serta lebih mengutamakan taklid dan mengikuti hawa nafsu. Tidak semua kekufuran
itu berasal dari sikap keras kepala (anad)." (Al-I'tiqad wal Hidayah, hal.
118)
Ringkasan
Jawaban Secara Singkat:
- Kaum musyrik adalah kafir dalam
hal Rububiyah dan Uluhiyah sekaligus.
- Penghalalan darah mereka
terjadi karena sikap keras kepala, penentangan, dan pendustaan mereka
terhadap Rasulullah SAW, bukan sekadar karena mengambil perantara.
- Wahhabi menggunakan analogi
yang rusak antara istighatsah yang syar'i dengan penyembahan berhala.
- Barangsiapa yang mengunggulkan
orang kafir musyrik di atas orang Muslim, maka ia telah kafir berdasarkan
konsensus (ijma').
- Penyesatan mereka dalam
membedakan antara "Rabb" dan "Ilah" tertolak oleh
dalil-dalil qath'i (pasti) dari Al-Kitab dan As-Sunnah.

Posting Komentar untuk "Kesalahan Konsep Tauhid Rububiyah Dalam Pemikiran Ibnu Taimiyah Dan Wahhabisme"