Makna Istiwā’ Menurut Imam Ibn Jarir ath-Tabari: Penjelasan Lengkap yang Sering Disalahpahami
Saya memohon kepada Allah agar
membuka hati kita untuk menerima kebenaran, petunjuk, dan manhaj Ahlus Sunnah.
Salah satu adab penting bagi pencari kebenaran adalah bersikap tenang, teliti,
dan tidak tergesa-gesa dalam memahami persoalan. Sebab tergesa-gesa bisa
membuat seseorang kehilangan kebenaran, membuka pintu kesalahan, bahkan
berujung pada sikap menuduh ulama dengan sesuatu yang tidak mereka maksudkan.
Tidak sedikit orang salah paham terhadap perkataan ulama hanya karena membaca
secara terburu-buru tanpa memahami konteksnya.
Istilah istiwā’ adalah salah satu
pembahasan paling penting dalam ayat-ayat sifat. Sayangnya, banyak orang
tergesa-gesa dalam memahaminya sehingga menisbatkan kepada ulama pendapat yang
tidak pernah mereka maksud. Imam Ibn Jarir ath-Tabari salah satu tokoh besar
tafsir dan rujukan salaf adalah contoh ulama yang sering disalahpahami dalam
masalah ini. Tulisan ini menguraikan makna istiwā’ menurut beliau secara
lengkap, berdasarkan teks asli dalam tafsirnya.
Jika seseorang mau menelaah satu
contoh sederhana, tanpa sikap membangkang, ia akan melihat betapa banyak
kekeliruan terjadi hanya karena ketidaktelitian. Contoh berikut menjadi bukti
yang sangat jelas.
Sebagian besar orang menyandarkan
Imam besar, ahli tafsir, dan tokoh salaf
Ibn Jarir ath-Tabari kepada
mazhab salaf. Dan hal itu benar. Namun kesalahan mereka muncul ketika mereka
membayangkan bahwa posisi Ibn Jarir terhadap sifat-sifat Allah terutama sifat
al-‘uluww dan istiwā’ sama persis dengan apa yang mereka pahami sebagai
“pendapat salaf”.
Begitu mereka menemukan bahwa Ibn
Jarir menafsirkan kata istawā dengan makna ‘alā (tinggi) dan irtafa‘a
(meninggi), mereka tergesa-gesa menyimpulkan bahwa Ibn Jarir sepaham dengan
mereka dan menyalahi pendapat Ahlus Sunnah Asyā‘irah. Padahal, jika mereka mau
bersabar dan membaca dengan cermat, justru akan tampak bahwa maksud Ibn Jarir
sangat berbeda dari apa yang mereka bayangkan.
Penjelasan Ibn Jarir (delapan baris), kemudian akan saya jelaskan maknanya:
وأوْلى المعاني بقول الله جل
ثناؤه:"ثم استوى إلى السماء فسوَّاهن"، علا عليهن وارتفع، فدبرهنّ
بقدرته، وخلقهنّ سبع سموات.
والعجبُ ممن أنكر المعنى المفهوم من كلام العرب في تأويل قول الله:"ثم استوى إلى السماء"، الذي هو بمعنى العلو والارتفاع، هربًا عند نفسه من أن يلزمه بزعمه -إذا تأوله بمعناه المفهم كذلك- أن يكون إنما علا وارتفع بعد أن كان تحتها - إلى أن تأوله بالمجهول من تأويله المستنكر. ثم لم يَنْجُ مما هرَب منه! فيقال له: زعمت أن تأويل قوله"استوى" أقبلَ، أفكان مُدْبِرًا عن السماء فأقبل إليها؟ فإن زعم أنّ ذلك ليس بإقبال فعل، ولكنه إقبال تدبير، قيل له: فكذلك فقُلْ: علا عليها علوّ مُلْك وسُلْطان، لا علوّ انتقال وزَوال. تفسير الطبري (1/ 430 ط التربية والتراث)
“Makna yang paling tepat dari firman
Allah: ‘Kemudian Dia ber-istiwa’ menuju langit lalu menyempurnakannya’ adalah
bahwa Allah Mahatinggi atas langit-langit tersebut dalam makna keagungan dan
kekuasaan-Nya. Dengan kekuasaan itulah Dia mengatur, menata, dan menciptakan
langit menjadi tujuh lapis.”
Kemudian Imam ath-Tabari berkata:
“Sungguh mengherankan orang yang
menolak makna bahasa Arab dalam firman Allah: ‘Kemudian Dia ber-istiwa’ menuju
langit’, padahal maknanya adalah ketinggian dan keagungan. Mereka menolaknya
karena takut menurut dugaan mereka bahwa jika diterima, seakan-akan Allah baru
‘meninggi’ setelah sebelumnya berada di bawah langit. Lalu mereka malah
menafsirkan ayat itu dengan makna yang tidak jelas dan tidak dikenal, namun
tetap tidak lepas dari konsekuensi yang mereka takuti!
Lalu beliau melanjutkan sanggahan:
“Jika mereka mengatakan bahwa makna
‘istawā’ adalah ‘menghadap’, maka kita bertanya: apakah sebelumnya Dia
berpaling dari langit lalu menghadap kepadanya? Jika mereka menjawab bahwa
maksud ‘menghadap’ bukan perbuatan fisik, tetapi menghadap dalam arti mengatur,
maka kita katakan pula: demikian pula makna ‘meninggi’ yang kami maksud adalah
ketinggian dalam arti kekuasaan dan kerajaan, bukan ketinggian karena berpindah
tempat atau bergerak.” (Tafsir ath-Tabari (1/430), Dar at-Tarbiyah wa
at-Turats.)
Catatan Penjelas
1.
‘Uluww
(ketinggian) = ketinggian maknawi (keagungan, kemuliaan, kekuasaan).
2.
Bukan
ketinggian fisik, posisi, ruang, atau arah.
3.
Istiwa’
dipahami sebagai tindakan Allah kepada makhluk, yaitu pengaturan, penataan, dan
penetapan kekuasaan-Nya.
4. Bukan “naik”, “bergerak”, atau “berpindah”.
Sebelum menjelaskan lebih jauh,
perlu dicatat bahwa Ibn Jarir memandang bahwa firman Allah “kemudian Dia
ber-istiwā’ menuju langit” sama maknanya dengan firman-Nya “Ar-Rahman
ber-istiwā’ di atas Arsy”. Dalam tafsir Surah Thaha ia berkata:
الرحمن على عرشه ارتفع وعلا.
وقد بيَّنا معنى الاستواء بشواهده فيما مضى وذكرنا اختلاف المختلفين فيه فأغنى ذلك عن إعادته في هذا الموضع. تفسير الطبري (18/ 270 ط التربية والتراث)
Kami telah menjelaskan makna istiwā’
beserta dalil-dalil pendukungnya pada bagian sebelumnya, dan kami juga telah
menyebutkan perbedaan pendapat para ulama tentang hal itu, sehingga tidak perlu
diulang kembali pada bagian ini.” (Tafsir ath-Tabari (18/270), cetakan Dar
at-Tarbiyah wa at-Turats. Penjelasan Makna “Istiwā’)
Menurut Ibn Jarir
Dalam tafsir al-Baqarah, Ibn Jarir mengatakan bahwa makna istiwā’ yang paling kuat adalah al-‘uluw dan al-irtifa‘. Namun ia segera menjelaskan bahwa yang ia maksud dengan tinggi bukanlah perubahan tempat, bukan naik secara fisik, dan bukan berpindah dari bawah ke atas. Ia menegaskan bahwa istiwā’ yang benar adalah:
علَا عليها عُلوَّ مُلْكٍ وسلطانٍ لا علوَّ انتقالٍ وزوالٍ. تفسير الطبري (1/ 457)
“Dia Maha Tinggi atasnya dengan
ketinggian kekuasaan dan kerajaan, bukan ketinggian karena berpindah tempat
atau mengalami perubahan.”(Tafsir ath-Tabari (1/457).
Dengan kata lain, yang dimaksud Ibn
Jarir adalah:
· Istiwā’ = Tindakan Allah pada makhluk-Nya
· bukan sifat berupa gerak atau berpindah tempat.
· Beliau menolak keras pemahaman bahwa Allah bergerak atau berpindah
dari satu tempat ke tempat lain. Karena itu ia menyatakan bahwa istiwā’
berarti:
علَا عليها عُلوَّ مُلْكٍ وسلطانٍ
“Tinggi dalam makna kerajaan, kekuasaan, dan pengaturan.”
Bukan:
“Allah naik secara fisik.”
Bantahan Ibn Jarir Terhadap Kelompok
Yang Memahami Istiwā’ Secara Fisik
Ibn Jarir membantah orang-orang yang
beranggapan bahwa bila istiwā’ dimaknai tinggi, maka seolah-olah Allah
sebelumnya berada “di bawah”. Ia menunjukkan bahwa keberatan mereka justru
berlaku pula terhadap takwil mereka sendiri ketika menafsirkan istiwā’ sebagai
“menghadap”. Sebab “menghadap” bisa dipahami bahwa sebelumnya “berpaling”. Maka
keberatan mereka sendiri tidak masuk akal.
Ketika mereka membela diri dengan
mengatakan bahwa maksud “menghadap” adalah “mengatur”, bukan berpindah, Ibn
Jarir menjawab bahwa makna “tinggi” yang ia maksud juga bukan berpindah, tetapi
“tinggi dalam makna kekuasaan”.
Ibn Jarir Sepaham dengan Ahlus
Sunnah Asyā‘irah
Makna yang ditegaskan Ibn Jarir ini
sejalan sepenuhnya dengan penjelasan Ahlus Sunnah Asyā‘irah:
· Istiwā’ bukan gerak.
· Istiwā’ bukan perpindahan tempat.
· Istiwā’ bukan naik dari bawah ke atas.
· Istiwā’ adalah sifat tindakan Allah berkaitan dengan penciptaan dan
pengaturan makhluk.
· Istiwā’ berarti keagungan, kekuasaan, dan pengaturan.
Ibn Jarir menjelaskan dengan jelas
bahwa istiwā’ bukanlah perbuatan fisik yang terjadi pada Dzat Allah. Inilah
persis inti pemahaman madzhab Asy‘ari dan Maturidi tentang ayat-ayat sifat.
Oleh karena itu, tidak ada masalah
menafsirkan istiwā’ dengan “tinggi” selama yang dimaksud adalah tinggi dalam
makna kekuasaan, bukan tinggi fisik atau perpindahan tempat inilah yang dibela
Ibn Jarir.
Yang ditolak oleh Ahlus Sunnah
adalah ketika orang memahami “tinggi” dalam arti gerakan dan perpindahan, sebab
hal itu menyerupakan Allah dengan makhluk.
Kesimpulan
Istiwā’ menurut Imam Ibn Jarir bukan
gerakan, bukan perpindahan, dan bukan menempati tempat tertentu.
Istiwā’ adalah tindakan Allah
terhadap makhluk-Nya: pengaturan, kekuasaan, dan pengendalian.
Ibn Jarir menegaskan bahwa makna
“tinggi” adalah tinggi dalam makna kerajaan dan kekuasaan, bukan tinggi secara
fisik.
Pemahamannya berada dalam jalur
Ahlus Sunnah, bukan dalam makna zahir fisik seperti yang dipahami sebagian
kelompok.
Istiwā’ adalah bagian dari
fi‘lullah, bukan sifat Dzat yang baru muncul atau berubah.
Semoga Allah meneguhkan kita dalam
kebenaran dan menjauhkan kita dari kesesatan serta keraguan.

Posting Komentar untuk "Makna Istiwā’ Menurut Imam Ibn Jarir ath-Tabari: Penjelasan Lengkap yang Sering Disalahpahami"