Sejarah Takfir Muhammad Bin Abdul Wahhab #1
Dengan nama
Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, dan semoga salawat serta salam
tercurah kepada beliau yang diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, juga
kepada keluarga, para sahabat, dan siapa pun yang mengikuti mereka dengan baik
hingga hari kiamat. Amma ba‘d:
Ini adalah
sebuah penelitian baru mengenai tema penting yang berkaitan dengan salah satu
bab berbahaya dalam akidah, yaitu menerapkan hukum takfir kepada orang yang
mengaku sebagai Muslim.
Dalam
penelitian ini saya akan membahas tentang pengkafiran kelompok Najd terhadap
umat Muhammad. Kelompok yang muncul bersamaan dengan kemunculan Ibn ‘Abd
al-Wahhab al-Najdi inilah yang pertama kali meletakkan dasar bid‘ah pengkafiran
umat atau yang disebut takfir al-syu‘ūb (mengkafirkan seluruh
masyarakat).
Bid‘ah mengkafirkan
umat Muhammad tidak dimulai dari munculnya kelompok-kelompok yang dipengaruhi
tulisan Sayyid Qutb, tetapi pengkafiran umat dimulai dari risalah-risalah
Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Dialah yang pertama kali mendasarkannya, kemudian
dilanjutkan oleh anak-anak dan cucu-cucunya, serta siapa pun yang menjadikannya
sebagai guru.
Banyak kelompok
Wahhabi kontemporer menghubungkan pengkafiran masyarakat Islam dengan tulisan
Sayyid Qutb, lalu mengatakan bahwa dialah sumber takfir umum terhadap umat ini.
Mereka sama sekali mengabaikan apa yang ditulis oleh kaum Najd dalam al-Durar
al-Saniyyah dan apa yang tercantum dalam Tarikh Najd tentang
pengkafiran setiap orang yang menyelisihi metode dan tauhid versi Ibn ‘Abd
al-Wahhab bahkan Wahhabi memvonis kafir Mekah al-Mukarramah dan penduduknya,
padahal mereka adalah Ahlullah! Mereka juga memvonis kafir Madinah
al-Munawwarah dan penduduknya, padahal mereka adalah para penolong Rasulullah.
Dengan izin dan
kekuatan Allah, saya akan menjelaskan, dari kitab-kitab kaum Najd sendiri,
betapa ekstrem dan kerasnya kelompok ini: bagaimana mereka berloyalitas kepada
para penyembah berhala dan memusuhi kaum Muslimin.
Sejak
kemunculan mereka, kelompok ini tidak pernah dikenal berjihad melawan kaum
kafir asli. Sebaliknya, mereka adalah sekutu paling kuat Kerajaan Inggris dan
bahkan termasuk pendiri organisasi Freemason yang bernama Perserikatan
Bangsa-Bangsa.
Takfir Ibn ‘Abd al-Wahhab terhadap dirinya sendiri dan seluruh manusia, serta tuduhan bahwa mereka tidak mengetahui makna kalimat tauhid
Muhammad bin
‘Abd al-Wahhab al-Najdi berkata:
لقد طلبت العلم ، واعتقدَ من عرفني أن لي معرفة ، وأنا ذلك
الوقت لا أعرف معنى " لا إله إلا الله " ، ولا أعرف دين الإسلام قبل هذا
الخير الذي مَنَّ الله به ، وكذلك مشايخي ، ما منهم رجل عرف ذلك . فمن زعم من علماء
العارض أنه عرف معنى " لا اله إلا الله " ، أو عرف معنى الإسلام قبل هذا
الوقت ، أو زعم عن مشايخه أن أحدًا عرف ذلك ، فقد كذب وافترى . الرسائل الشخصية :
‹ ص ١٨٧ › .
“Aku telah
menuntut ilmu, dan orang-orang yang mengenalku mengira bahwa aku memiliki
pengetahuan. Padahal saat itu aku tidak mengetahui makna lā ilāha illā Allāh,
dan aku tidak mengetahui agama Islam sebelum datangnya kebaikan yang Allah
karuniakan ini. Demikian pula guru-guruku, tidak seorang pun dari mereka
mengetahui hal itu. Maka barang siapa dari ulama al-‘Āriḍ mengklaim bahwa ia
mengetahui makna lā ilāha illā Allāh, atau mengetahui makna Islam
sebelum masa ini, atau mengklaim bahwa salah satu guru-gurunya mengetahuinya,
maka ia telah berdusta dan membuat kebohongan.”— al-Rasā’il al-Syakhṣiyyah,
hlm. 187.
Ibn ‘Abd
al-Wahhab secara tegas mengatakan bahwa tidak ada seorang pun dari guru-gurunya
dan tidak pula dirinya yang mengetahui makna lā ilāha illā Allāh, di
seluruh jazirah Arab!
Pada zaman ini,
Anda menjumpai ekstremis Khawarij yang ditanya mengapa mereka mengkafirkan umat
dari Indonesia di timur hingga Maroko di barat. Mereka akan berkata: “Manusia
tidak mengetahui lā ilāha illā Allāh, mereka tidak mengetahui Islam.”
Ini persis
ucapan Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Ia adalah bapak spiritual bagi
setiap Khawarij yang mengkafirkan umat Muhammad yang bertauhid kepada Allah.
Betapa Ekstremnya Ibn ‘Abd Al-Wahhab: Ia Menyatakan Bahwa Orang-Orang Yang Mengucapkan Lā Ilāha Illā Allāh Lebih Kafir Daripada Para Penyembah Berhala
Muhammad bin
‘Abd al-Wahhab al-Najdi berkata:
فاعرف أن شرك المشركين ، الذين كانوا في زمان رسول الله - ﷺ - أخف من شرك
أهل زماننا . الدرر السنية : ‹ ٣٩ / ٢ › .
“Ketahuilah
bahwa kesyirikan kaum musyrik yang hidup pada zaman Rasulullah lebih ringan
dibanding kesyirikan orang-orang pada zaman kita.”— al-Durar al-Saniyyah,
2/39.
Ia juga
berkata:
لكن
المشركون في زماننا أضل من الكفار الذين في زمن رسول الله صلى الله عليه
وسلم
الدرر
السنية في الأجوبة النجدية (2/ 41)
“Akan tetapi,
kaum musyrik pada zaman kita lebih sesat daripada para kafir pada zaman
Rasulullah.”— al-Durar al-Saniyyah, 2/41.
Betapa besar
kebencian orang ini terhadap mereka yang mengucapkan lā ilāha illā Allāh
dan beriman kepada penutup para rasul. Ia menggambarkan mereka yang menolak lā
ilāha illā Allāh, memerangi nabi, menyembah berhala, dan menjadikannya
sebagai tuhan-tuhan selain Allah, sebagai orang-orang yang lebih ringan
kesyirikannya dibanding kaum Muslimin yang beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya.
Betapa ekstrem
dan keluar dari ajaran Islam pernyataan itu!
Menurutnya,
orang yang menyembah berhala atau meyakini trinitas Nasrani lebih ringan
kesyirikannya daripada seorang Muslim yang bertawassul kepada ruh para nabi
atau orang saleh dalam perkara-perkara yang mampu dilakukan makhluk.
Perhatikan akal
luar biasa aneh yang dimiliki Khawarij ini!
Hanya Segelintir Orang Dari Umat Muhammad Yang Selamat Dari Syirik, Sementara Seluruh Umat Lainnya Dianggap Musyrik Dan Termasuk Penghuni Neraka
‘Abd al-Latif
Āl al-Syaikh berkata:
ولم
ينج من شرك هذا الشرك إلا الخواص والأفراد والغرباء في سائر البلاد؛ وذلك
مصداق ما أخبر به الصادق المصدوق بقوله: "بدأ الإسلام غريبا، وسيعود غريبا كما
بدأ"
مجموعة
الرسائل والمسائل النجدية (الجزء الثالث) (ص352)
“Tidak ada yang
selamat dari syirik ini kecuali para tokoh khusus, individu tertentu, dan
orang-orang yang dianggap asing di seluruh negeri. Hal ini merupakan kebenaran
dari apa yang diberitakan oleh al-Shādiq al-Mashdūq (Rasulullah) dengan
sabdanya: ‘Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana
ia dimulai.’— Majmū‘ al-Rasā’il wa al-Masā’il, hlm. 352.
Apakah ada orang berakal yang masih ragu setelah semua kutipan ini bahwa bid‘ah takfir masyarakat dan takfir umat masuk melalui jalur dakwah Najd?
Mereka secara
terang-terangan menyatakan bahwa tidak ada yang mengetahui Islam sebelum dakwah
Ibn ‘Abd al-Wahhab; bahwa umat telah tenggelam dalam syirik sampai datang Ibn
‘Abd al-Wahhab lalu mengeluarkan manusia dari syirik menuju tauhid. Inilah
hakikat pemikiran kaum Najd.
Umat Muhammad
dianggap sebagai “ahli fatrah” sebelum kemunculan Nabi Najd, Muhammad bin ‘Abd
al-Wahhab
Syaikh Husayn
dan Syaikh ‘Abdullah dua putra Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab ditanya:
عمن مات قبل هذه الدعوة
ولم يدرك الإسلام ، وهذه الأفعال التي يفعلها الناس اليوم ، يفعلها ولم تقم عليه
الحجة ، ما الحكم فيه ؟ وهل يسب ويلعن أو يكف عنه ؟ وهل يجوز لولده الدعاء له ؟
وما الفرق بين من لم يدرك هذه الدعوة ، ومن أدركها ومات معاديًا لهذا الدين وأهله
؟ . فأجابا : من مات من أهل الشرك قبل بلوغ هذه الدعوة ، فالذي يحكم عليه : أنه
إذا كان معروفًا بفعل الشرك ، ويدين به ، ومات على ذلك ، فهذا ظاهره أنه مات على
الكفر ، فلا يدعى له ، ولا يضحى عنه ، ولا يتصدق عنه ، وأما حقيقة أمره فإلى الله
: فإن كان قد قامت عليه الحجة في حياته وعاند ، فهذا كافر في الظاهر والباطن ، وإن
كان لم تقم عليه الحجة ، فأمره إلى الله) الدرر السنية في الأجوبة النجدية (5/ 154)
Tentang orang
yang mati sebelum dakwah ini muncul, dan ia tidak mengenal Islam, serta
melakukan amalan-amalan yang kini dilakukan manusia, namun belum sampai
kepadanya hujah (argumen Islam). Bagaimana hukumnya? Apakah ia harus dicela
atau dilaknat? Apakah anaknya boleh mendoakannya? Apa perbedaan antara orang
yang tidak pernah mendengar dakwah ini dan orang yang mendengarnya kemudian
mati dalam keadaan memusuhi agama dan pemeluknya?
Mereka berdua
menjawab:
“Barang siapa
mati dalam keadaan syirik sebelum dakwah ini sampai kepadanya, maka yang
dihukumi adalah: apabila ia dikenal melakukan syirik, beragama dengannya, dan
mati dalam keadaan demikian, maka secara lahiriah ia mati dalam kekafiran. Maka
tidak didoakan, tidak disembelihkan kurban untuknya, dan tidak disedekahkan
untuknya. Adapun hakikat urusannya maka itu kembali kepada Allah. Jika hujah
telah tegak atasnya ketika hidup, lalu ia bersikeras menolak, maka ia kafir lahir
dan batin. Jika hujah belum tegak atasnya, maka urusannya terserah Allah.” —
al-Durar al-Saniyyah, 5/154.
Para pendakwah Najd juga berkata:
فنقول:
إن هؤلاء الذين ماتوا قبل ظهور هذه الدعوة الإسلامية، وظاهر حالهم الشرك،
لا نتعرض لهم، ولا نحكم بكفرهم ولا بإسلامهم؛
الدرر
السنية في الأجوبة النجدية (11/ 75)
“Setelah hal
ini jelas, kami katakan: orang-orang yang mati sebelum munculnya dakwah Islam
ini, dan keadaan lahiriah mereka tampak dalam syirik, maka kami tidak mengusik
mereka; kami tidak menghukumi mereka sebagai kafir ataupun sebagai Muslim.”—
al-Durar al-Saniyyah, 11/75.
Mereka juga berkata:
فإنه
قام بهذه الدعوة أتم القيام، ووازره على ذلك، ونصره الإمام محمد بن سعود،
وأولاده وإخوانه، فجزاهم الله عن الإسلام والمسلمين خيرا، فبسببهم دخل الناس في دين
الله أفواجا، ونفذت الدعوة الإسلامية، وشملت كافة أهل نجد، البادية والحاضرة، وقام
علم الجهاد، وانقمع أهل الغي والفساد.
الدرر
السنية في الأجوبة النجدية (9/ 108)
“Sesungguhnya
dakwah ini telah ditegakkan dengan sempurna, dan telah dibantu serta ditolong
oleh Imam Muhammad bin Saud, anak-anaknya, dan saudara-saudaranya. Semoga Allah
memberi balasan terbaik bagi mereka atas nama Islam dan kaum Muslimin. Karena
berkat mereka manusia masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong; dakwah
Islam tersampaikan dan menjangkau seluruh penduduk Najd, baik badui maupun
penduduk kota. Panji jihad ditegakkan, dan orang-orang sesat serta perusak pun
tertundukkan.” — al-Durar al-Saniyyah, 9/108.
Sebelum dakwah
Rasul Najd, Ibn ‘Abd al-Wahhab, manusia dianggap berada dalam kegelapan dan
syirik, dan tidak mengenal tauhid serta Islam sampai ia diutus kepada manusia.
Menurut mereka, seluruh makhluk berada dalam keadaan fatrah (kekosongan dari
risalah).
Para pendakwah Najd berkata:
آخر
هذا الزمان، في القرن الثاني عشر، بظهور من دعا إلى ما دعت إليه الرسل،
وهو: شيخ الإسلام، وعلم الهداة الأعلام، الشيخ: محمد بن عبد الوهاب، أسكنه الله الجنة
بمنه وكرمه؛ لأنه خرج في زمن فترة من أهل العلم، تشبه الفترة التي بين الرسل، فدعا
إلى الله،
الدرر
السنية في الأجوبة النجدية (14/ 317)
“Pada akhir
zaman ini, pada abad kedua belas Hijriah, muncullah seseorang yang menyeru
kepada apa yang diserukan oleh para rasul, yaitu Syaikhul Islam, panutan para
pemberi petunjuk, Syaikh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab semoga Allah
menempatkannya di surga karena
ia muncul pada masa fatrah dari kalangan ulama, mirip dengan masa fatrah
di antara dua rasul. Maka ia pun menyeru kepada Allah.” — al-Durar al-Saniyyah,
14/317.
Mereka juga
berkata:
وفي
أوقاتنا بعد العهد بآثار النبوة، وطال الزمان، وكاد الزمان يشبه زمن الفترة،
لغلبة الجهل، وشدة الغربة; وقد من الله تعالى في هذه الأقطار بشيخ الإسلام، رحمه
الله تعالى، فقام في تجريد التوحيد، وتمهيد قواعد الملة أتم قيام،
الدرر
السنية في الأجوبة النجدية (14/ 64)
“Pada masa kita ini, setelah jauhnya masa dari bekas-bekas kenabian, dan setelah berlalu waktu yang panjang, keadaan zaman hampir-hampir menyerupai masa fatrah karena dominasi kebodohan dan kuatnya keterasingan agama. Maka Allah menganugerahi negeri-negeri ini seorang Syaikhul Islam semoga Allah merahmatinya yang bangkit untuk memurnikan tauhid dan menegakkan dasar-dasar agama dengan sempurna.” — al-Durar al-Saniyyah, 14/64.
Jelaslah bahwa
kaum Najd memperlakukan manusia seolah-olah mereka adalah ahl al-fatrah!
Namun
pertanyaannya: bagaimana mungkin manusia dianggap seperti ahl al-fatrah,
padahal mereka memiliki Al-Qur’an dan Sunnah di hadapan mereka? Padahal dengan
Al-Qur’an dan Sunnah, hujah dalam masalah tauhid dan syirik sudah tegak atas
manusia!
Inilah salah
satu bentuk kekacauan dan kebodohan kaum Najd dalam menetapkan hukum takfir.
Ketika mereka telah mengkafirkan umat Muhammad yang makshum dari syirik mereka
terjebak dalam dilema: apakah dihukumi penghuni neraka atau tidak?
Mereka pun bingung. Mereka berkata:
“Siapa yang
mati sebelum munculnya dakwah Nabi mereka dari Najd, tidak dikatakan sebagai
Muslim, tidak juga sebagai musyrik, dan tidak diputuskan apakah ia di neraka
atau tidak! Tetapi siapa yang hujah telah ditegakkan kepadanya melalui Kitab al-Tauhid,
al-Qawa‘id al-Arba‘, dan Kasyf al-Syubuhāt maka ia termasuk penghuni neraka.”
Maka menurut
kaum Najd, Al-Qur’an saja tidak cukup sebagai hujah.
Al-Qur’an
membutuhkan “sentuhan” nabi mereka, yaitu Ibn ‘Abd al-Wahhab, agar tauhid dan
syirik dapat dijelaskan dan hujah tegak atas manusia!
Dan isnya allah akan lanjutkan lagi
part selanjutnya….
Penulis: Tgk Safrizal

Masya Allah, terima kasih ilmunya ustadz. Semoga bertambah barokahnya.
BalasHapusAminn. Mohon di share ustad agar kawan Kwan jadi referensi
Hapus