Vonis Muhammad bin Abdul Wahhab: Mekkah Disebut Negeri Syirik dan Penduduknya Musyrik #2
Vonis Muhammad bin Abdul Wahhab: Mekkah Disebut Negeri Syirik dan Penduduknya Musyrik
Dalam pembahasan ini, penulis menyoroti secara khusus fenomena takfir yang muncul dari kalangan Najd Hijriah, yang dipelopori oleh Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Melalui risalah-risalah mereka sendiri seperti al-Durar al-Saniyyah, al-Rasā’il al-Syakhsiyyah, dan catatan sejarah Najd terlihat jelas bagaimana kelompok ini memvonis negeri-negeri Islam, termasuk Makkah al-Mukarramah, sebagai wilayah syirik dan penduduknya sebagai kaum musyrik.
Kajian ini tidak bertujuan membangkitkan permusuhan, melainkan menyajikan fakta ilmiah berdasarkan sumber primer agar umat tidak terjebak dalam generalisasi takfir dan ekstremisme yang bertentangan dengan manhaj Ahlussunnah wal Jama‘ah. Dengan menelusuri akar sejarah dan pernyataan para tokoh Najd sendiri, pembaca diharapkan dapat memahami bagaimana doktrin ini terbentuk, berkembang, dan mempengaruhi sebagian kelompok ekstrem di masa kini.
Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk tetap berada di jalan yang lurus, menjauh dari sikap berlebihan, dan selalu berpegang pada prinsip keadilan ilmiah dalam menilai setiap persoalan agama.
Abd al-Latif Āl al-Syaikh juga berkata kepada orang
yang berdiskusi dengannya tentang penduduk Makkah:
وقال أيضا: رحمه
الله، لمن ناظره في أهل مكة {سُبْحَانَكَ لا عِلْمَ لَنَا الَاّ مَا
عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ} [سورة البقرة آية: 32] جرت
المذاكرة في كون مكة بلد كفر، أم بلد إسلام; فنقول وبالله التوفيق: قد بعث الله
محمدا صلى الله عليه وسلم بالتوحيد الذي هو دين جميع الرسل، وحقيقته هو مضمون شهادة
أن لا إله إلا الله، وهو أن يكون الله معبود الخلائق فلا يتعبدون لغيره بنوع من
أنواع العبادة; ومخ العبادة هو الدعاء، ومنها الخوف والرجاء، والتوكل والإنابة،
والفزع، والصلاة، وأنواع العبادة كثير، وهذا الأصل العظيم، الذي هو شرط في صحة كل
عمل.
الدرر السنية في
الأجوبة النجدية (9/ 260)
Mereka menjawab, “Maha Suci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah/2:32) “Terjadi pembicaraan mengenai apakah Makkah merupakan negeri kekufuran atau negeri Islam. Maka kami berkata dengan pertolongan Allah: Sesungguhnya Allah telah mengutus Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam dengan tauhid, yaitu agama seluruh para rasul. Hakikatnya adalah kandungan dari syahadat lā ilāha illā Allāh, yaitu bahwa Allah adalah satu-satunya yang disembah oleh seluruh makhluk; tidak boleh mereka beribadah kepada selain-Nya dengan salah satu jenis ibadah apa pun. Inti ibadah adalah doa (ad-du‘ā’), termasuk di dalamnya rasa takut, harap, tawakal, kembali kepada Allah, meminta pertolongan, salat, dan berbagai macam bentuk ibadah lainnya. Prinsip agung inilah yang menjadi syarat bagi sahnya setiap amal.” — al-Durar al-Saniyyah fī al-Ajwibah al-Najdiyyah, 9/260.
وأمّا إذا كان الشّرك
فاشيًا مثل دعاء الكعبة والمقام والحطيم ودعاء الأنبياء والصّالحين، وإفشاء
توابع الشّرك مثل الزّنا والرّبا وأنواع الظّلم ونبذ السّنن وراء الظّهر، وفشو
البدع والضّلالات وصار التّحاكم إلى الأئمّة الظّلمة ونواب المشركين وصارت الدّعوة
إلى غير القرآن والسّنة، وصار هذا معلومًا في أيّ بلد كان فلا يشكّ من له أدنى علم
أنّ هذه البلاد محكوم عليها بأنّها بلاد كفر وشرك
مجموعة الرسائل
والمسائل النجدية - ط المنار (1/ 743)
Adapun apabila syirik telah merajalela seperti berdoa kepada Ka‘bah, Maqām, dan Hatīm; berdoa kepada para nabi dan orang-orang saleh; tersebarnya berbagai pengikut syirik seperti zina, riba, dan berbagai bentuk kezaliman; ditinggalkannya sunnah dan dibuang jauh ke belakang; merebaknya bid‘ah dan kesesatan; dijadikannya rujukan hukum kepada para pemimpin zalim dan wakil-wakil kaum musyrik; dan berubahnya dakwah menjadi kepada selain al-Qur’an dan Sunnah; apabila semua itu nyata di negeri mana pun, maka tidak akan meragukan orang yang memiliki sedikit ilmu bahwa negeri itu dihukumi sebagai negeri kekufuran dan kesyirikan.” — Majmū‘at al-Rasā’il wa al-Masā’il al-Najdiyyah, cet. al-Manār, 1/743.
‘Abd al-Latif Āl al-Syaikh juga menukil pernyataan Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab yang secara tegas menyatakan bahwa Makkah adalah negeri syirik, negeri kekufuran maudzûr serta menyebut alasan-alasan dan hal-hal baru pembatal (nawâqid) yang menurutnya membuat Makkah dan penduduknya kafir.
Para pendakwah Najd berkata: “
فمن لم يكفر المشركين
من الدولة التركية، وعباد القبور، كأهل مكة وغيرهم، ممن عبد الصالحين، وعدل
عن توحيد الله إلى الشرك، وبدّل سنّة رسوله صلى الله عليه وسلم بالبدع، فهو
كافر مثلهم، وإن كان يكره دينهم، ويبغضهم، ويحب الإسلام والمسلمين ; فإن الذي لا
يكفر المشركين، غير مصدق بالقرآن، فإن القرآن قد كفر المشركين، وأمر بتكفيرهم،
وعداوتهم وقتالهم.
الدرر السنية في
الأجوبة النجدية (9/ 291)
Barang siapa tidak mengkafirkan kaum musyrikin dari negara Turki, dan para pemuja kubur seperti penduduk Makkah dan yang semisalnya yaitu mereka yang menyembah orang saleh, berpaling dari tauhid kepada syirik, dan mengganti sunnah Rasul maka ia kafir seperti mereka, sekalipun ia membenci agama mereka, membenci perbuatan mereka, dan mencintai Islam serta kaum Muslimin. Karena orang yang tidak mengkafirkan para musyrik itu tidak beriman kepada al-Qur’an; al-Qur’an telah mengkafirkan para musyrik dan memerintahkan untuk mengkafirkan, menentang, dan memerangi mereka.” — al-Durar al-Saniyyah, 9/291.
• Sekelompok pendakwah Najd ini memvonis penduduk Makkah kafir, dan
barang siapa yang tidak mengkafirkan penduduk Makkah maka ia dianggap kafir
pula!
• Lalu muncul pihak-pihak yang menutup mata dan menyatakan penyebab
merebaknya ekstremisme dan takfir-lintas-massa semata-mata karena Sayyid Qutb
dan kelompok-kelompok bersenjata (!) saja.
• Mereka mengabaikan kutipan-kutipan dari para pendakwah Najd yang telah mengkafirkan seluruh negeri-negeri Muslim, sampai berani mendeskripsikan Makkah dan Madinah sebagai ‘negeri syirik’ dan penduduknya musyrik.
Dalil bahwa Makkah dan Madinah tidak akan kembali menjadi negeri
syirik dan penduduknya tidak akan menjadi musyrik hingga hari kiamat
• Diriwayatkan dari Aisyah semoga Allah meridhainya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda:
حَدَّثَنَا أَبُو
مَعْمَرٍ ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
حَبِيبٍ ، عَنِ ابْنِ أَبِي حُسَيْنٍ ، عَنْ عَطَاءٍ ، عَنْ عَائِشَةَ
قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - : «لَا هِجْرَةَ بَعْدَ
الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ ، وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا» .
مسند أبي يعلى الموصلي : ‹ ٣٦٢ / ٨ › .
“Tidak ada hijrah setelah (terbukanya) Fathu (Makkah); tetapi (masih ada) jihad dan niat; dan apabila kalian diperintahkan untuk keluar (berperang), maka berangkatlah.” (Musnad Abu Ya‘la al-Mawsili: 8/362).
• Dari dalil ini dapat ditarik bahwa Makkah tidak akan kembali
menjadi negeri kaum musyrik setelah pembukaannya; tidaklah layak bagi siapa pun
untuk berhijrah dari Makkah menuju Madinah karena Makkah adalah negeri tauhid
dan negeri Islam hingga Allah mewarisi bumi dan apa yang ada di atasnya.
• Hal ini bertentangan dengan ajaran ekstrem Ibn ‘Abd al-Wahhab yang memvonis kafir Makkah dan Madinah bahkan seluruh Jazirah Arab dan negeri-negeri Islam lainnya.
• Diriwayatkan pula:
حَدَّثَنَا
الْحُمَيْدِيُّ قَالَ : ثنا سُفْيَانُ قَالَ : ثنا زَكَرِيَّا بْنُ أَبِي
زَائِدَةَ ، عَنِ الشَّعْبِيِّ ، عَنِ الْحَارِثِ بْنِ مَالِكِ ابْنِ الْبَرْصَاءِ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ - ﷺ - يَوْمَ فَتْحِ
مَكَّةَ يَقُولُ : «لَا تُغْزَى مَكَّةُ بَعْدَ هَذَا الْيَوْمِ أَبَدًا» . قَالَ
سُفْيَانُ «تَفْسِيرُهُ عَلَى الْكُفْرِ» . مسند الحميدي : ‹ ٤٨٧ / ١ › .
Sufyan berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari pembukaan Makkah bersabda: “Makkah tidak akan digempur (diterjang musuh) setelah hari ini selama-lamanya.” Sufyan menafsirkan bahwa maksudnya adalah tidak akan kembali ke kekufuran. (Musnad al-Humaydi: 1/487).
• Diriwayatkan juga bahwa pada hari pembukaan Makkah Nabi bersabda:
حَدَّثَنَا
الْحُمَيْدِيُّ قَالَ : ثنا سُفْيَانُ قَالَ : ثنا زَكَرِيَّا بْنُ أَبِي
زَائِدَةَ ، عَنِ الشَّعْبِيِّ قَالَ : أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُطِيعٍ ،
عَنْ أَبِيهِ مُطِيعِ بْنِ الْأَسْوَدِ وَكَانَ مِنْ عُصَاةِ قُرَيْشٍ مِمَّنْ
يُسَمَّى الْعَاصَ «فَسَمَّاهُ النَّبِيُّ - ﷺ - مُطِيعًا» وَلَمْ يُدْرِكِ
الْإِسْلَامَ مِنْ عُصَاةِ قُرَيْشٍ غَيْرُهُ ، يَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ - ﷺ - يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ يَقُولُ : «لَا يُقْتَلُ قُرَشِيٌّ صَبْرًا
بَعْدَ هَذَا الْيَوْمِ أَبَدًا» . قَالَ سُفْيَانُ «يَعْنِي عَلَى الْكُفْرِ» .
مسند الحميدي : ‹ ٤٨٤ / ١ › .
Al-Humaydi meriwayatkan kepada kami, ia
berkata:
Sufyān meriwayatkan kepada kami, ia berkata:
Zakariyyā bin Abī Zā’idah meriwayatkan kepada kami, dari al-Sya‘bī, ia berkata:
‘Abdullāh
bin Muṭī‘ mengabarkan kepadaku dari ayahnya, Muṭī‘ bin al-Aswad—dia adalah
salah seorang dari para pelanggar dari kalangan Quraisy yang dijuluki al-‘Āṣ; namun Nabi—shallallāhu ‘alaihi wa
sallam—menamainya dengan Muṭī‘ (orang yang
taat). Dan tidak ada seorang pun dari para pelanggar Quraisy yang sempat masuk
Islam selain dirinya.
Ia berkata:
“Aku
mendengar Rasulullah shallallāhu ‘alaihi
wa sallam pada hari pembukaan Makkah
bersabda:
‘Seorang
Quraisy tidak akan dibunuh secara ṣabran
(dalam keadaan ditawan dan dibunuh karena kufur) setelah hari ini
selama-lamanya.’”
Sufyān berkata: “Maksudnya: karena kekufuran.” — Musnad al-Humaydi, jilid 1, hlm. 484.
• Dari riwayat-riwayat ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa Makkah tidak akan kembali menjadi negeri kekufuran
setelah pembukaannya; dan kaum Quraisy tidak akan dibunuh lagi karena
kekufuran. Sufyan bin ‘Uyaynah menafsirkannya dalam konteks kekufuran.
• Namun para pendakwah Najd malah memvonis Makkah sebagai negeri
syirik! Bahkan Wahhabi yang menyerbu Makkah dan Madinah atas alasan syirik mereka
mengepung dan membunuh penduduknya dengan dalih khurafat ‘syirik kubur’!
• Pertanyaannya: apakah kita mempercayai Nabi Allah Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam yang diwahyukan kepadanya dari atas ‘Arsy, ataukah kita mempercayai
seorang penggembala Badui penipu yang mengaku nabi bagi Najd, keturunan Dhu
al-Khuwaishirah al-Tamimi? (penghujatan terhadap figur tertentu dimuat dalam
teks asli).
حَدَّثَنَا رَوْحُ
بْنُ الْفَرَجِ ، قَالَ : حَدَّثَنَا حَامِدُ بْنُ يَحْيَى ، قَالَ : حَدَّثَنَا
سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ ، عَنْ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ ، عَنِ
الشَّعْبِيِّ ، عَنِ الْحَارِثِ بْنِ الْبَرْصَاءِ ، قَالَ : " سَمِعْتُ
رَسُولَ اللهِ - ﷺ - يَقُولُ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ " لَا تُغْزَى مَكَّةُ
بَعْدَ هَذَا الْيَوْمِ أَبَدًا " . قَالَ : سُفْيَانُ تَفْسِيرُهُ أَنَّهُمْ
لَا يَكْفُرُونَ أَبَدًا ، وَلَا يُغْزَوْنَ عَلَى الْكُفْرِ . قَالَ أَبُو
جَعْفَرٍ : وَكَذَلِكَ مَعْنَى لَا يُقْتَلُ قُرَشِيٌّ بَعْدَ الْعَامِ صَبْرًا
إنَّمَا يُرَادُ بِهِ هَذَا الْمَعْنَى أَنَّهُمْ لَا يَعُودُونَ كُفَّارًا
يُغْزَوْنَ حَتَّى يُقْتَلُوا عَلَى الْكُفْرِ كَمَا لَا تَعُودُ مَكَّةُ دَارَ
كُفْرٍ تُغْزَى عَلَيْهِ وَبِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ التَّوْفِيقُ . شرح مشكل الآثار
للطحاوي : ‹ ١٦٢ / ٤ › .
Rauh bin al-Faraj meriwayatkan kepada kami, ia berkata:
Hāmid bin Yahyā meriwayatkan kepada kami, ia berkata:
Sufyān bin ‘Uyaynah meriwayatkan kepada kami, dari Zakariyyā bin Abī Zā’idah, dari al-Sya‘bī, dari al-Hārits bin al-Barṣā’, ia berkata:
“Aku mendengar Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam pada hari pembebasan Makkah bersabda:
‘Makkah tidak akan diserang (digempur) setelah hari ini
selama-lamanya.’”
Sufyān berkata: “Penafsirannya adalah bahwa mereka (penduduk Makkah) tidak akan kembali kafir selama-lamanya, dan mereka tidak akan diperangi atas dasar kekufuran.”
Abū Ja‘far berkata: “Demikian pula makna sabda Nabi ‘Seorang Quraisy tidak akan dibunuh secara ṣabran setelah tahun ini’; yang dimaksud adalah bahwa mereka tidak akan kembali menjadi orang-orang kafir yang diperangi sehingga mereka dibunuh atas dasar kekufuran, sebagaimana Makkah tidak akan kembali menjadi negeri kekufuran yang diperangi atas dasar itu. Dengan Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Mulia-lah taufik diberikan.” — Syarḥ Mushkil al-Ātsār, karya al-Ṭaḥāwī, jilid 4, hlm. 162.
• Renungkan, pembaca yang adil dan pencari kebenaran: bandingkan
ucapan Sufyan bin ‘Uyaynah dan at-Tahawi dengan ucapan para pendakwah Najd
tentang Makkah dan penduduknya; niscaya akan jelas kebathilan dan kesesatan
kelompok bid‘ah yang muncul dari Najd yang menumpahkan darah kaum Muslimin atas
dalih khurafat syirik kubur.
حَدَّثَنَا حَمَّادُ
بْنُ أُسَامَةَ ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ ، عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ ، عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قَالَ
رَسُولُ اللهِ - ﷺ - : " إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى الْمَدِينَةِ ،
كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ إِلَى جُحْرِهَا " . مسند الإمام أحمد بن
حنبل : ‹ ٢٣٩ / ١٣ › .
Hammad bin Usāmah meriwayatkan kepada kami, ia berkata:
‘Ubaydullāh meriwayatkan kepada kami, dari Khuḅaib bin ‘Abd al-Raḥmān,
dari Ḥafṣ bin ‘Āṣim, dari Abu Hurairah, ia berkata:
Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya iman benar-benar akan berkumpul kembali menuju Madinah, sebagaimana ular kembali menuju liangnya.” — Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, 13/239.
• Diriwayatkan pula hadits panjang tentang keanehan zaman dan
kebangkitan iman di antara dua masjid (Makkah dan Madinah) ketika orang-orang
menjadi asing:
حَدَّثَنَا هَارُونُ
بْنُ مَعْرُوفٍ ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ وَهْبٍ ، أَخْبَرَنِي أَبُو
صَخْرٍ ، قَالَ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدُ اللهِ بْن أَحْمَدَ
: وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنْ هَارُونَ : أَنَّ أَبَا حَازِمٍ ، حَدَّثَهُ عَنِ
ابْنٍ لِسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ أَبِي
، يَقُولُ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ - ﷺ - ، وَهُوَ يَقُولُ
: " إِنَّ الْإِيمَانَ بَدَأَ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ ،
فَطُوبَى يَوْمَئِذٍ لِلغُرَبَاءِ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ ، وَالَّذِي نَفْسُ أَبِي
الْقَاسِمِ بِيَدِهِ لَيَأْرِزَنَّ الْإِيمَانُ بَيْنَ هَذَيْنِ الْمَسْجِدَيْنِ
كَمَا تَأْرِزُ الْحَيَّةُ فِي جُحْرِهَا " . مسند الإمام أحمد بن حنبل : ‹
١٥٧ / ٣ › .
Harun bin Ma‘rūf meriwayatkan kepada kami, ia
berkata:
‘Abdullāh bin Wahb mengabarkan kepada kami, ia
berkata:
Abu Ṣakhr mengabarkan kepadaku; Abu ‘Abd al-Raḥmān
‘Abdullāh bin Aḥmad berkata:
Dan aku sendiri mendengar dari Harun bahwa Abu
Ḥāzim menceritakan kepadanya dari seorang putra Sa‘d bin Abī Waqqāṣ. Ia
berkata:
Aku mendengar ayahku berkata: “Aku mendengar Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‘Sesungguhnya iman dimulai dalam keadaan asing, dan ia akan kembali asing sebagaimana ia dimulai. Maka berbahagialah pada hari itu orang-orang yang asing, ketika manusia telah rusak. Demi Dzat yang jiwa Abu al-Qasim berada di tangan-Nya, sungguh iman akan kembali dan berkumpul di antara dua masjid ini sebagaimana ular kembali masuk ke dalam liangnya.’” — Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, 3/157.
• Setelah semua riwayat ini, masih adakah yang
mengklaim bahwa ada orang beriman yang meyakini bahwa Makkah yang dibuka dan
disucikan oleh Allah dari najis para penyembah berhala akan kembali menjadi
negeri syirik dan kekufuran? Padahal Makkah adalah ibu kota tauhid; demikian
pula Madinah, kota para Anṣār, tempat dimakamkannya sebaik-baik makhluk shallallahu
‘alaihi wa sallam.
• Tetapi sayangnya, Ibn ‘Abd al-Wahhab dan
para pengikutnya memvonis kafir Makkah dan Madinah sebelum mereka merebutnya
dengan berperang; mereka memutuskan bahwa kota-kota ini adalah negeri perang
dan syirik, lalu menaklukkan, mengepung, dan membunuh penduduknya dengan dalih
bahwa mereka tidak memahami lā ilāha illā Allāh, bahwa mereka adalah pemuja kubur,
dan lain-lain.
KESIMPULAN
Gerakan takfir yang dipelopori Muhammad bin
‘Abd al-Wahhab menunjukkan penyimpangan serius dalam memahami syirik, tauhid,
dan status umat Muhammad. Vonis terhadap Makkah dan penduduknya mengungkap pola
ekstrem yang jauh dari manhaj Ahlussunnah. Kajian historis membuktikan bahwa
doktrin ini berbahaya dan tidak mewakili Islam.

Posting Komentar untuk "Vonis Muhammad bin Abdul Wahhab: Mekkah Disebut Negeri Syirik dan Penduduknya Musyrik #2"