Ziarah Kubur Nabi: Sunnah Atau Bid‘Ah? Ini Dalilnya
Ziarah ke makam Rasulullah ﷺ merupakan salah satu amalan yang sejak
dahulu menjadi perhatian para ulama dan kaum muslimin. Praktik ini tidak hanya
berkaitan dengan adab dan kecintaan kepada Nabi ﷺ,
tetapi juga memiliki landasan hadis yang diriwayatkan oleh para imam hadis
dengan beragam jalur periwayatan. Dalam khazanah keilmuan Islam, pembahasan
mengenai ziarah kubur Nabi ﷺ sering kali disertai
dengan diskursus tentang syafaat, validitas hadis, serta perbedaan pandangan
ulama dalam memahaminya.
Sejumlah hadis menyebutkan
keutamaan orang yang datang menziarahi Rasulullah ﷺ
dengan niat semata-mata untuk ziarah. Di antaranya adalah hadis dari Ibnu ‘Umar
r.a. yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan dinilai sahih oleh Ibnu as-Sakan,
serta hadis-hadis lain yang memiliki jalur penguat (syawāhid) sehingga dinilai hasan oleh para ahli hadis
seperti adz-Dzahabi. Hadis-hadis ini menunjukkan adanya hubungan antara ziarah
Nabi ﷺ dan harapan memperoleh syafaat beliau pada
hari kiamat.
Selain itu, terdapat riwayat
dari Abu Hurairah r.a. yang diriwayatkan oleh al-Hakim dan disepakati
kesahihannya oleh adz-Dzahabi, yang menegaskan bahwa Nabi ‘Isa عليه السلام kelak akan datang ke makam Rasulullah ﷺ dan memberi salam, yang kemudian dijawab
oleh beliau ﷺ. Riwayat ini menjadi
penguat penting bahwa ziarah ke makam Nabi ﷺ
bukanlah perkara asing dalam ajaran Islam, bahkan berkaitan erat dengan adab
para nabi dan orang-orang saleh.
Dalam ranah fikih, para ulama berbeda pendapat mengenai hukum melakukan perjalanan khusus untuk berziarah ke makam orang-orang saleh, termasuk makam Rasulullah ﷺ. Namun, Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa menurut jumhur ulama mazhab Syafi‘i, perjalanan tersebut tidak haram dan tidak makruh. Hadis tentang larangan “syaddur-rihal” dipahami sebagai penetapan keutamaan khusus bagi tiga masjid, bukan sebagai larangan ziarah ke selainnya.
Artikel ini akan menguraikan
secara sistematis dalil-dalil hadis tentang ziarah kubur Nabi ﷺ, penilaian para ahli hadis terhadap sanad dan matannya, serta
penjelasan ulama Ahlus Sunnah wal Jama‘ah mengenai hukum dan makna ziarah
tersebut. Dengan merujuk pada sumber-sumber otoritatif, pembahasan ini
diharapkan dapat memberikan pemahaman yang utuh, ilmiah, dan proporsional
mengenai ziarah Rasulullah ﷺ dalam tradisi Islam.
Hadis Ziarah Nabi ﷺ dan Jaminan Syafaat
وقال صلى
الله عليه وسلم من جاءني زائراً لا يهمه إلا زيارتي كان حقاً علي أن أكون
له شفيعاً).
قال العراقي: رواه الطبراني من حديث ابن عمر وصححه ابن السكن اهـ.
تخريج أحاديث إحياء علوم الدين (2/ 666)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa datang mengunjungiku, tidak ada tujuan baginya selain
untuk menziarahiku, maka menjadi kewajiban atasku untuk menjadi pemberi syafaat
baginya.”
Al-‘Iraqi berkata: “Hadis ini diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari hadis Ibnu ‘Umar,
dan dinilai sahih oleh Ibnu as-Sakan.”
(Sumber: Takhrīj Aḥādīts Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, 2/666)
Dalam Hadits yang lain: Hadis “Man Zāra Qabrī” dari Ibnu ‘Umar r.a.
حديث ابن
عمر: "من زار قبري وجبت له شفاعتي" 2/ 195
ابن خزيمة في
صحيحه متوقفًا في ثبوته والبزار والطبراني وله طرق وشواهد حسنه الذهبي لأجلها
الذهبي.
مناهل الصفا
في تخريج أحاديث الشفا (ص208)
Hadis dari Ibnu ‘Umar r.a.:
“Barang siapa menziarahi kuburanku, maka wajib
baginya syafaatku.”
Hadis ini disebutkan oleh Ibnu
Khuzaimah dalam Shahih-nya dengan sikap tawaqquf (tidak memastikan secara tegas
tingkat kesahihannya). Hadis ini juga
diriwayatkan oleh al-Bazzar dan ath-Thabrani, serta memiliki beberapa jalur
periwayatan dan penguat (syawāhid).
Karena adanya jalur-jalur tersebut, adz-Dzahabi menilainya hasan.
(Sumber: Manāhil ash-Shafā fī Takhrīj Aḥādīts ash-Shifā, hlm. 208)
Al-Hakim meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:
وعن أبي هريرة رضي الله عنه؛ قال: قال رسول الله صلى
الله عليه وسلم: «ليهبطن عيسى ابن مريم حكما عدلا وإماما مقسطا، وليسلكن فجا
حاجا أو معتمرا أو بنيتهما، وليأتين قبري حتى يسلم علي، ولأردن عليه»
. قال أبو هريرة رضي الله عنه: أي بني أخي! إن رأيتموه؛ فقولوا: أبو هريرة يقرئك
السلام.
رواه الحاكم في "مستدركه"، وقال "صحيح
الإسناد ولم يخرجاه"، ووافقه الذهبي في "تلخيصه".
إتحاف الجماعة بما جاء في الفتن والملاحم وأشراط الساعة
(3/ 125)
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:“Sungguh ‘Isa putra Maryam akan turun sebagai hakim
yang adil dan pemimpin yang menegakkan keadilan. Ia akan menempuh suatu jalan
sebagai orang yang berhaji atau berumrah, atau dengan niat salah satunya. Ia
akan datang ke kuburanku hingga memberi salam kepadaku, dan aku pasti akan
menjawab salamnya.”
Abu Hurairah r.a. kemudian berkata:“Wahai anak saudaraku, jika
kalian melihatnya (Nabi ‘Isa), maka sampaikanlah kepadanya salam dariku.”
Hadis ini
diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak, dan ia berkata: “Sanadnya sahih
dan tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.” Penilaian ini disepakati oleh adz-Dzahabi dalam at-Talkhish.
(Sumber: Ithāf al-Jamā‘ah bimā Jā’a fī al-Fitan wa al-Malāḥim wa Asyrāṭ as-Sā‘ah, 3/125)
Dalam Hadits Yang lain:
حَدِيثُ قط: «مَنْ حَجَّ فَزَارَ قَبْرِي بَعْدَ
وَفَاتِي، فَكَأَنَّمَا زَارَنِي فِي حَيَاتِي» الْحَدِيثَ.
قط فِي الْحَجِّ: ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ
بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ، ثنا حَفْصُ بْنُ
أَبِي دَاوُدَ، عَنْ لَيْثِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ، عَنْهُ بِهَذَا.
إتحاف المهرة بالفوائد المبتكرة من أطراف العشرة ٨/٦٥١
— ابن حجر العسقلاني (ت ٨٥٢)
Hadis Quth (Qat):
“Barang siapa menunaikan ibadah haji lalu menziarahi
kuburanku setelah wafatku, maka seakan-akan ia telah menziarahiku ketika aku
masih hidup.”
Riwayat Quth dalam pembahasan haji: Telah meriwayatkan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abd al-‘Aziz;
ia berkata: Abu ar-Rabi‘ az-Zahrani meriwayatkan kepada kami; ia berkata: Hafsh
bin Abi Dawud meriwayatkan kepada kami, dari Laits bin Abi Sulaim, darinya,
dengan hadis ini.
(Sumber: Ithāf al-Maharah bi al-Fawā’id al-Mubtakirah min Aṭrāf al-‘Asyarah, 8/651 — karya Ibn Hajar al-‘Asqalani, wafat 852 H)
قال النووي(2) في شرح مسلم: اختلف العلماء في شد الرحل
لغير الثلاثة كالذهاب إلى قبور الصالحين وإلى المواضع الفاضلة، فذهب الشيخ
أبو محمد الجويني إلى حرمته، وأشار عياض إلى اختياره، والصحيح عند أصحابنا أنه لا
يحرم ولا يكره، قالوا: والمراد أن الفضيلة الثابتة إنما هي شد الرحل إلى هذه
الثلاثة خاصة، انتهى.
نيل الأوطار (9/ 417)
Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh Shahih Muslim:
“Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum bepergian
(bersengaja melakukan perjalanan) ke selain tiga masjid (yang disebutkan dalam
hadis), seperti pergi ke makam orang-orang saleh dan ke tempat-tempat yang
mulia.
Syaikh Abu Muhammad al-Juwaini berpendapat bahwa hal
tersebut haram, dan Qadhi ‘Iyadh mengisyaratkan pilihannya kepada pendapat itu.
Namun pendapat yang benar menurut para ulama mazhab
kami (Syafi‘iyyah) adalah bahwa hal itu tidak haram dan tidak makruh.
Mereka menjelaskan bahwa maksud hadis tersebut
adalah: keutamaan khusus yang ditetapkan hanyalah pada perjalanan menuju tiga
masjid itu saja, bukan berarti perjalanan ke selainnya menjadi terlarang.” Selesai.
(Sumber: Nail al-Awthār, 9/417)
WARNING
Ingat kawan kawan bahwa sebagian
hadits yang sudah saya tulis diatas ada yang di yang di dhaifkan oleh utsaiman
dan al albani dan malahan dikatakan hadits MUNGKAR.......
Boleh di lihat :
[حكم الألباني]
(موضوع) انظر
حديث رقم: 5607 في ضعيف الجامع
الشيخ: نعم موضوع.
الشرح الصوتي لزاد
المستقنع - ابن عثيمين ١/٤٠٢٠ — ابن عثيمين (ت ١٤٢١)
Penulis: Tgk Safrizal

Posting Komentar untuk "Ziarah Kubur Nabi: Sunnah Atau Bid‘Ah? Ini Dalilnya"