Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Bantahan terhadap Pembagian Tauhid (1)

 

Bantahan terhadap Pembagian Tauhid

Masalah paling berbahaya dari Ibn Taimiyah secara mutlak adalah pembagiannya terhadap tauhid menjadi: rububiyah, uluhiyah, serta nama dan sifat. Mengapa demikian?

Karena persoalan ini melahirkan dampak praktis di lapangan dan tidak berhenti pada tataran teori dan perdebatan semata seperti isu-isu lainnya.

Pembagian ini justru menyebabkan meluasnya jaringan pengkafiran untuk menjaring sebanyak mungkin kaum Muslimin. Siapa yang lolos pada “guillotine” tauhid rububiyah, akan ditebas oleh “guillotine” tauhid uluhiyah; dan siapa yang selamat dari tebasan tauhid uluhiyah, akan digiling oleh “mesin penghancur” tauhid nama dan sifat.

Oleh sebab itu, menurut para penganut pembagian tauhid ini, tauhid yang sah hanya dimiliki oleh segelintir kaum Muslimin saja, yaitu mereka yang mengadopsi keyakinan berbahaya ini.

Maka jangan lagi bertanya tentang kerusakan dan kehancuran yang ditimbulkan oleh pembagian tauhid ini. Jangan bertanya tentang darah yang tertumpah karenanya, jiwa-jiwa yang melayang, kehormatan yang dinodai, harta benda yang dirampas, negeri-negeri yang dihancurkan, serta kurikulum pendidikan Islam klasik yang lurus dan mapan yang diganti dan diubah.

Sudah menjadi hal yang lumrah jika para penganut tauhid versi ini mengeluhkan “keterasingan Islam”, karena menurut mereka tidak ada Muslim di muka bumi ini kecuali diri mereka sendiri. Bahkan, Islam seseorang tidak dianggap sah kecuali jika ia menganut tauhid versi ini dan menjadi pengikut mereka.

Adapun Ibn Taimiyah dalam mendukung klaim pembagian tauhidnya bertumpu pada beberapa anggapan berikut:

1.     Ia mengklaim bahwa para rasul ‘alaihimussalam tidak diutus untuk menetapkan tauhid rububiyah.

2.     Ia mengklaim bahwa tauhid rububiyah tidak pernah diperselisihkan dan tidak pernah diingkari.

3.     Ia mengklaim bahwa orang-orang musyrik adalah orang-orang yang bertauhid dalam rububiyah.

4.     Ia mengklaim bahwa seluruh ulama ilmu kalam dari kalangan Ahlus Sunnah tidak memahami makna “Lā ilāha illallāh”, dan bahwa tauhid mereka tidak lebih dari tauhid Abu Jahal dan Abu Lahab.

Posting Komentar untuk "Bantahan terhadap Pembagian Tauhid (1)"