Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Bantahan terhadap Pembagian Tauhid (2)

Bantahan terhadap Pembagian Tauhid (2)

Pembagian tauhid menjadi rububiyah, uluhiyah, serta nama dan sifat pertama kali diadakan oleh Imam Ibn Taimiyah.

Perlu ditegaskan bahwa tiga istilah ini memang telah digunakan oleh para ulama sebelumnya dan kerap terlontar dalam ungkapan mereka. Namun, tidak seorang pun dari mereka yang memaksudkan apa yang dimaksud oleh Ibn Taimiyah. Mereka tidak memisahkan istilah-istilah tersebut satu sama lain dengan cara menetapkan bagi setiap istilah makna khusus yang tidak terdapat pada istilah lainnya. Mereka juga tidak pernah mengatakan bahwa rububiyah tidak mencukupi tanpa uluhiyah, serta tidak pernah menyusun konsekuensi hukum dan vonis pengadilan atas pembagian istilah-istilah tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh Ibn Taimiyah.

Para ulama sebelum Ibn Taimiyah menggunakan istilah rububiyah dan uluhiyah sebagai sifat-sifat bagi satu Dzat yang sama, bukan sebagai bagian-bagian yang terpisah dan saling tidak mencukupi. Ulama yang paling sering saya dapati menggunakan istilah-istilah ini berdasarkan pengetahuan saya yang terbatas adalah Imam Ibn Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya.

Dengan penjelasan ini, tampak jelas kekacauan metodologis yang dilakukan oleh ‘Abdurrazzaq al-Badr dalam risalahnya yang berjudul “Al-Qaul as-Sadid fi Aqsam at-Tauhid”, di mana ia mengumpulkan pernyataan para ulama yang menggunakan istilah-istilah tersebut, padahal maksud para ulama itu berbeda-beda dan tidak sama dengan maksud Ibn Taimiyah.

Rububiyah tidak pernah terpisah dari uluhiyah:

Allah Ta‘ala berfirman:

أرباب متفرقون خير أم الله الواحد القهار

“Apakah tuhan-tuhan yang beraneka ragam itu lebih baik atau Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?”

لكن هو الله ربي ولا أشرك بربي أحدا

“Tetapi Dialah Allah, Rabbku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku.”

إن ربكم الله الذي خلق السماوات والأرض في ستة أيام

“Sesungguhnya Rabb kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.”

إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا تتنزل عليهم الملائكة

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah, maka malaikat-malaikat turun kepada mereka.”

Dalam pertanyaan kubur pun ditanyakan: “Siapa Rabbmu?” Maka dijawab: “Rabbku adalah Allah.”

Penggunaan lafaz agung “Allah” untuk menegaskan keesaan dalam penciptaan, pemberian rezeki, menghidupkan dan mematikan, serta penggunaan lafaz “Rabb” untuk mendorong kepada ibadah, sangat banyak dijumpai dalam Al-Qur’an.

Dengan demikian, tidak ada perbedaan antara uluhiyah dan rububiyah, dan tidak ada perbedaan antara Rabb dan Ilah. Setiap orang yang benar-benar merealisasikan rububiyah pasti telah merealisasikan uluhiyah, dan sebaliknya. Tidak ada seorang pun yang meyakini rububiyah pada sesuatu kecuali ia terdorong untuk menyembahnya, dan tidak ada seorang pun yang menyembah sesuatu kecuali karena keyakinannya terhadap rububiyah sesuatu tersebut.

Istilah-istilah ini, jika disebutkan secara bersamaan maka maknanya dibedakan, dan jika disebutkan secara terpisah maka maknanya saling mencakup, sebagaimana iman dan Islam. Setiap ilah disembah karena ia dianggap sebagai rabb, dan setiap rabb pasti menjadi ilah yang disembah.

Dengan penjelasan ini, jelas perbedaan antara kaum Muslimin yang bertawassul dan beristighatsah kepada orang-orang yang telah wafat dengan para penyembah berhala. Kaum Muslimin tidak menyembah para wali karena mereka tidak meyakini adanya rububiyah pada diri para wali tersebut. Adapun para penyembah berhala, yang mendorong mereka menyembah berhala tidak lain adalah keyakinan mereka terhadap rububiyah berhala-berhala itu dan anggapan bahwa ia memiliki peran bersama Sang Pencipta.

Seorang Muslim tidak menjadi kafir hanya karena sujud kepada selain Allah kecuali jika ia meyakini rububiyah pada sesuatu yang disujudi tersebut. Adapun sujud semata-mata untuk penghormatan dan pemuliaan, maka kami katakan: perbuatan itu haram dan telah dihapus dalam syariat kita, tetapi bukan kesyirikan.

👉 Oleh karena itu, definisi ibadah yang benar adalah:

ketundukan dan pendekatan diri dengan cinta, pengagungan, dan rasa takut kepada sesuatu yang diyakini memiliki rububiyah.

 

…bersambung, insya Allah.

 

 

 

 

Posting Komentar untuk "Bantahan terhadap Pembagian Tauhid (2)"