Membatalkan Pembagian Tauhid (3): Mengkafirkan secara serampangan!!!
Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmū‘
al-Fatāwā (1/155):
والمشركون من قريش وغيرهم
- الذين أخبر القرآن بشركهم واستحل النبي صلى الله عليه وسلم دماءهم وأموالهم
وسبى حريمهم وأوجب لهم النار - كانوا مقرين بأن الله وحده خلق السموات والأرض. مجموع الفتاوى
(1/ 155)
“Orang-orang musyrik dari Quraisy dan selain
mereka yang Al-Qur’an mengabarkan kemusyrikan mereka, dan Nabi ﷺ menghalalkan darah serta harta mereka,
menawan kaum wanita mereka, dan mewajibkan neraka bagi mereka mereka itu
mengakui bahwa Allah saja (perhatikan kata: ‘saja’)
yang menciptakan langit dan bumi.”
Dan pada halaman (1/159) ia menyebutkan bahwa
para rasul sesungguhnya diutus dengan (misi) ulūhiyyah (ketuhanan/ibadah).
Dan ia
berkata dalam kitab at-Tis‘īniyyah (hal. 799):
فكان الكفار يقرون بتوحيد الربوبية،
وهو نهاية ما يثبته هؤلاء المتكلمون -إذا سلموا من البدع فيه- وكانوا مع هذا
مشركين
التسعينية (3/ 799)
“Maka orang-orang kafir itu mengakui tauhid
rubūbiyyah, dan itu adalah batas akhir yang ditetapkan oleh para mutakallimīn
(ahli ilmu kalam) ini apabila mereka selamat dari bid‘ah di dalamnya; namun
bersama itu mereka tetap musyrik.”
Apakah
masalah berhenti pada penyamaan ulama ushuluddin dengan orang-orang musyrik?
Jawab: Tidaaaak!
Bahkan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab an-Najdi
menyempurnakan apa yang dimulai Ibnu Taimiyah. Ia berkata dalam Qawā‘id al-Arba‘:
مشركوا زماننا أغلظ كفرا من
مشركي قريش لأن مشركي قريش يشركون في الرخاء ويوحدون في الشدة أما مشركوا زماننا
فيشركون في الشدة والرخاء
“Kaum musyrik pada zaman kita lebih berat
kekafirannya daripada musyrik Quraisy; karena musyrik Quraisy berbuat syirik
saat lapang dan mentauhidkan (Allah) saat sulit, sedangkan musyrik zaman kita
berbuat syirik saat sulit dan saat lapang!!!!”
Dan sandaran dalil utama mereka adalah firman
Allah Ta‘ala:
ولئن سألتهم من خلق السماوات والأرض
ليقولن الله
“Dan sungguh jika engkau bertanya kepada
mereka: siapa yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka akan berkata:
Allah”
Dan
ayat-ayat lain yang serupa.
Jawabannya:
1) Dari mana Ibnu Taimiyah mengetahui bahwa orang-orang kafir Quraisy meyakini bahwa Allah saja yang menciptakan alam semesta?!
Tidak ada dalam seluruh Al-Qur’an bahwa orang-orang
kafir mengakui keesaan Allah dalam penciptaan alam. Yang ada hanyalah pengakuan
tentang adanya Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan bahwa Dia menciptakan alam. Ini
tidak menafikan keyakinan kaum musyrik tentang adanya “tuhan-tuhan” lain yang
ikut bersama Allah dan membantu-Nya dalam penciptaan meskipun mereka anggap kedudukannya lebih
rendah dari Allah Yang Maha Agung menurut sangkaan mereka. (Menyebut satu hal
tidak menafikan selainnya.)
Bahkan
dalam Al-Qur’an terdapat yang menegaskan bahwa kaum musyrik menjadikan bersama
Allah tuhan-tuhan yang “bersekutu” dalam penciptaan. Allah Ta‘ala berfirman:
فلما أتاهما صالحا جعلا له
شركاء فيما أتاهما فتعالى الله عما بشركون
“Maka tatkala Dia memberi keduanya anak yang
saleh, keduanya menjadikan bagi-Nya sekutu-sekutu terhadap apa yang Dia
karuniakan kepada keduanya; maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka
sekutukan.”
Dan dalam Sunnah disebutkan apa yang diucapkan
kaum musyrik ketika thawaf di Ka‘bah:
لبيك لا شرك لك إلا شريكا هو
لك تملكه وما ملك
“Aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu
kecuali satu sekutu yang memang milik-Mu; Engkau menguasainya dan apa yang ia
kuasai.”
Dan
bagaimana ucapan Abu Sufyan pada perang Uhud: “Tinggikan Hubal!” sebagai
jawaban atas takbir kaum Muslimin kecuali
karena keyakinannya bahwa berhala-berhala mereka memberi pertolongan, rezeki,
dan mematikan selain Allah.
Karena
itu mereka mengambil banyak berhala: sebagian untuk kemenangan perang, sebagian
untuk menurunkan hujan, sebagian untuk perdagangan, sebagian untuk memberi
anak. Semua perbuatan ini termasuk kekhususan rubūbiyyah. Lalu di mana “tauhid”
yang mereka klaim?!
2) Pengakuan kaum musyrik bahwa Allah menciptakan alam semesta terjadi karena terpaksa saat ditanya, agar mereka lepas dari rasa malu/pojok.
Sebab mereka tahu secara fitrah: tidak ada yang ada tanpa pencipta,
dan tidak ada sebab tanpa yang menyebabkan. Namun setelah itu mereka cepat
kembali mengingkari dan kufur, dan tidak konsisten dengan pengakuan mereka.
Karena itu kebanyakan ayat ditutup dengan semacam firman Allah:
“Maka bagaimana kamu dipalingkan?”
“Maka bagaimana kamu disihir (dipalingkan oleh
kebatilan)?”
Jadi mereka tidak jujur ketika mengatakan Allah
satu-satunya dalam penciptaan. Mirip dengan ini disebutkan oleh Imam Ibnu
‘Āsyūr dalam tafsirnya (8/166) dan al-Ālūsī dalam tafsirnya (20/180).
3) Dari mana Ibnu Taimiyah memastikan bahwa semua kaum musyrik itu bertauhid dalam rubūbiyyah dan bahwa tauhid ini tidak pernah diperselisihkan?!
Bukankah Fir‘aun mengingkari adanya Sang
Pencipta secara total:
ما علمت لكم من إله غير فأوقد
لي هامان على الطين صرحا لعلي أطلع إلى إله موسى وإني لأظنه من الكاذبين))((أنا
ربكم الأعلى
“Aku tidak mengetahui bagi kalian ada tuhan
selain aku. Maka bakarlah (buatkan) untukku, wahai Haman, (batu-batu) dari
tanah liat, lalu buatkan bagiku bangunan tinggi agar aku dapat melihat Tuhan
Musa; dan sungguh aku mengira dia termasuk orang-orang pendusta.”
dan: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.”
Bukankah
Namrud membantah rubūbiyyah:
أنا أحيي وأميت
“Aku menghidupkan dan mematikan.”
Bukankah kaum Ibrahim ‘alaihis-salām meyakini
rubūbiyyah benda-benda langit, sehingga Nabi Allah menggiring mereka dengan
debat:
فلما رأى كوكبا قال هذا ربي
“Maka tatkala ia melihat bintang, ia berkata:
ini Tuhanku.”
فلما رأى القمر بازغا قال هذا
ربي
“Maka tatkala ia melihat bulan terbit, ia
berkata: ini Tuhanku.”
فلما رأى الشمس بازغة قال هذا
ربي
“Maka tatkala ia melihat matahari terbit, ia
berkata: ini Tuhanku.”
Dan dalam hadis qudsi:
أصبح من عبادي كافر بي ومؤمن
فأما الكافر فيقول مطرنا بنوء كذا
“Pada pagi hari, ada di antara hamba-Ku yang
kafir kepada-Ku dan ada yang beriman. Adapun yang kafir berkata: ‘Kami diberi
hujan karena bintang ini dan itu.’”
Bukankah
sebagian kaum musyrik termasuk kaum dahriyyah (yang menisbatkan segala sesuatu
pada waktu):
وما يهلكنا إلا الدهر
“Tidak ada yang membinasakan kami selain masa.”
Dan kaum
Majusi yang meyakini adanya dua pencipta alam: cahaya dan kegelapan.
Bukankah
dua orang tahanan bersama Yusuf ‘alaihis-salām adalah musyrik dalam rubūbiyyah:
أأرباب متفرقون خير أم الله
الواحد القهار
“Apakah tuhan-tuhan yang beraneka lebih baik,
ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?”
Bukankah
musyrik Quraisy meyakini bahwa malaikat adalah anak-anak perempuan Allah,
membantu-Nya mengatur alam, lalu mereka menyembah jin karena mengira jin itu
malaikat:
بل كانوا يعبدون الجن أكثرهم
بهم مؤمنون
“Bahkan mereka menyembah jin; kebanyakan mereka
beriman kepada jin.”
Dan
klaim Yahudi dan Nasrani bahwa Allah punya anak bukankah
itu syirik dalam rubūbiyyah?
Semua
ayat ini dan selainnya meruntuhkan bangunan yang dibangun Ibnu Taimiyah;
bangunan yang (menurut penulis) telah menyebabkan tertumpahnya darah kaum
Muslimin tanpa hak. Maka hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan.
…bersambung
insya Allah Ta‘ala.

Posting Komentar untuk "Membatalkan Pembagian Tauhid (3): Mengkafirkan secara serampangan!!!"