Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Menggugat Klaim Wahabi: Sanad Manhaj Salaf yang Palsu dan Terputus

 

Menggugat Klaim Wahabi: Sanad Manhaj Salaf yang Palsu dan Terputus


Bagaimana mungkin Ibnu Taimiyah dan para pengikut Wahabi mengklaim bahwa mereka berada di atas manhaj salaf, sementara sanad (keterhubungan keilmuan dan akidah) mereka kepada salaf terputus?

 Orang yang berbuat bid‘ah, Ibnu Taimiyah al-Harrani, berkata dalam Majmū‘ al-Fatāwā jilid 6 halaman 154 (edisi tahqiq ‘Āmir al-Jazzār dan Anwar al-Bāz, cetakan Dār al-Wafā’, Manshurah, cetakan ketiga, tahun 1426 H), sebagai berikut:

 وَأَنَا وَغَيْرِي كُنَّا عَلَى مَذْهَبِ الْآبَاءِ فِي ذَلِكَ نَقُولُ فِي الْأَصْلَيْنِ بِقَوْلِ أَهْلِ الْبِدَعِ، فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَنَا مَا جَاءَ بِهِ الرَّسُولُ دَارَ الْأَمْرُ بَيْنَ أَنْ نَتَّبِعَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ، أَوْ نَتَّبِعَ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا، فَكَانَ الْوَاجِبُ هُوَ اتِّبَاعُ الرَّسُولِ، وَإِلاَّ نَكُون مِمَّنْ قِيلَ فِيهِ: "وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا"- لقمان:21

“Aku dan orang-orang selainku dahulu berada di atas mazhab para leluhur (nenek moyang) kami. Dalam dua pokok (agama), kami mengatakan pendapat ahli bid‘ah. Ketika telah jelas bagi kami apa yang dibawa oleh Rasul, maka perkaranya berputar antara mengikuti apa yang Allah turunkan atau mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami. Maka yang wajib adalah mengikuti Rasul, agar kami tidak termasuk orang-orang yang dikatakan kepada mereka: ‘Dan apabila dikatakan kepada mereka: ikutilah apa yang telah Allah turunkan, mereka menjawab: tidak, tetapi kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami’ (QS. Luqman: 21).”

Ini merupakan pengakuan yang sangat jelas dari tokoh yang berpaham tajsim ini bahwa ia dahulu berada di atas akidah nenek moyangnya dari keluarga Taimiyah. Padahal di antara mereka terdapat ulama besar dalam mazhab Hanbali, seperti kakeknya Majduddin ‘Abd al-Salam bin Taimiyah, penulis kitab al-Musawwadah fi Ushul al-Fiqh, dan ayahnya ‘Abd al-Halim bin Taimiyah.

Kemudian ia mengklaim menurut pengakuannya sendiri bahwa ia “menemukan” bahwa ayah dan kakek-kakeknya, sejak generasi pertama, termasuk ahli bid‘ah dalam pokok-pokok akidah. Maka ia pun meninggalkan mazhab mereka dan melemparkan dirinya ke dalam lautan tajsim (penjisim-an Tuhan), tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk), dan pengkafiran.

Dengan langkah yang sama, orang-orang yang terfitnah olehnya pun mengikuti jalan tersebut, termasuk pendiri gerakan Wahabi, Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Bahkan ia melangkah lebih jauh dalam kesesatannya, sampai-sampai menafikan Islam dari seluruh gurunya, termasuk ayahnya sendiri, Syaikh ‘Abd al-Wahhab.

Ia berkata dalam ad-Durar as-Saniyyah fi al-Ajwibah an-Najdiyyah jilid 10 halaman 51 (dikumpulkan oleh ‘Abd ar-Rahman bin Muhammad bin Qasim al-‘Ashimi an-Najdi al-Hanbali, cetakan keenam, tahun 1417 H), sebagai berikut:

 

وَأَنَا أُخْبِرُكُم عَنْ نَفْسِي، وَاللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ، لَقَدْ طَلَبْتُ الْعِلْمَ، وَاعْتَقَدَ مَنْ عَرَفَنِي أَنَّ لِي مَعْرِفَةً، وَأَنَا ذَلِكَ الْوَقْت، لاَ أَعْرِفُ مَعْنَى: "لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ"، وَلاَ أَعْرِفُ دِينَ الْإِسْلاَمِ قَبْلَ هَذَا الْخَيْر الَّذِي مَنَّ اللهُ تَعَالَى بِهِ، وَكَذَلِكَ مَشَايِخِي، مَا مِنْهُم رَجُلٌ عَرَفَ_ذَلِكَ. فَمَنْ زَعَمَ مِنْ عُلَمَاءِ "الْعَارِضِ": أَنَّهُ عَرَفَ مَعْنَى: "لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ"، أَوْ عَرَفَ مَعْنَى الْإِسْلاَمِ قَبْلَ هَذَا الْوَقْتِ، أَوْ زَعَمَ عَنْ مَشَايِخِهِ أَنَّ أَحَداً عَرَفَ ذَلِكَ، فَقَدْ كَذَبَ وَافْتَرَى، وَلَبَّسَ عَلَى الْنَّاسِ، وَمَدَحَ نَفْسَهُ بِمَا لَيْسَ فِيهِ

“Aku mengabarkan kepada kalian tentang diriku sendiri. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, sungguh aku telah menuntut ilmu, dan orang-orang yang mengenalku menyangka bahwa aku memiliki pengetahuan. Padahal pada waktu itu aku tidak mengetahui makna ‘Lā ilāha illallāh’, dan tidak mengetahui agama Islam sebelum kebaikan ini yang Allah anugerahkan kepadaku. Demikian pula para guruku, tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui hal itu.

Maka siapa saja dari ulama ‘al-‘Aridh’ yang mengklaim bahwa ia mengetahui makna ‘Lā ilāha illallāh’, atau mengetahui makna Islam sebelum waktu ini, atau mengklaim bahwa salah satu gurunya mengetahui hal tersebut, maka sungguh ia telah berdusta, berbuat kebohongan, menipu manusia, dan memuji dirinya dengan sesuatu yang tidak ada padanya.”

 

Lalu bagaimana mungkin orang-orang yang menyimpang ini mengklaim bahwa mereka berada di atas akidah salaf, sementara sanad mereka kepada salaf jelas terputus?

Posting Komentar untuk "Menggugat Klaim Wahabi: Sanad Manhaj Salaf yang Palsu dan Terputus"