Menggugat Klaim Wahabi: Sanad Manhaj Salaf yang Palsu dan Terputus
Bagaimana mungkin Ibnu Taimiyah dan para pengikut Wahabi mengklaim bahwa mereka berada di atas manhaj salaf, sementara sanad (keterhubungan keilmuan dan akidah) mereka kepada salaf terputus?
“Aku dan
orang-orang selainku dahulu berada di atas mazhab para leluhur (nenek moyang)
kami. Dalam dua pokok (agama), kami mengatakan pendapat ahli bid‘ah. Ketika
telah jelas bagi kami apa yang dibawa oleh Rasul, maka perkaranya berputar
antara mengikuti apa yang Allah turunkan atau mengikuti apa yang kami dapati
dari nenek moyang kami. Maka yang wajib adalah mengikuti Rasul, agar kami tidak
termasuk orang-orang yang dikatakan kepada mereka: ‘Dan apabila dikatakan
kepada mereka: ikutilah apa yang telah Allah turunkan, mereka menjawab: tidak,
tetapi kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami’ (QS. Luqman:
21).”
Ini merupakan
pengakuan yang sangat jelas dari tokoh yang berpaham tajsim ini bahwa ia dahulu
berada di atas akidah nenek moyangnya dari keluarga Taimiyah. Padahal di antara
mereka terdapat ulama besar dalam mazhab Hanbali, seperti kakeknya Majduddin
‘Abd al-Salam bin Taimiyah, penulis kitab al-Musawwadah fi Ushul al-Fiqh, dan
ayahnya ‘Abd al-Halim bin Taimiyah.
Kemudian ia
mengklaim menurut pengakuannya sendiri bahwa ia “menemukan” bahwa ayah dan
kakek-kakeknya, sejak generasi pertama, termasuk ahli bid‘ah dalam pokok-pokok
akidah. Maka ia pun meninggalkan mazhab mereka dan melemparkan dirinya ke dalam
lautan tajsim (penjisim-an Tuhan), tasybih (penyerupaan Allah dengan makhluk),
dan pengkafiran.
Dengan langkah
yang sama, orang-orang yang terfitnah olehnya pun mengikuti jalan tersebut,
termasuk pendiri gerakan Wahabi, Muhammad bin ‘Abd al-Wahhab. Bahkan ia
melangkah lebih jauh dalam kesesatannya, sampai-sampai menafikan Islam dari
seluruh gurunya, termasuk ayahnya sendiri, Syaikh ‘Abd al-Wahhab.
Ia berkata
dalam ad-Durar as-Saniyyah fi al-Ajwibah an-Najdiyyah jilid 10 halaman 51
(dikumpulkan oleh ‘Abd ar-Rahman bin Muhammad bin Qasim al-‘Ashimi an-Najdi
al-Hanbali, cetakan keenam, tahun 1417 H), sebagai berikut:
وَأَنَا أُخْبِرُكُم عَنْ نَفْسِي، وَاللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ
هُوَ، لَقَدْ طَلَبْتُ الْعِلْمَ، وَاعْتَقَدَ مَنْ عَرَفَنِي أَنَّ لِي
مَعْرِفَةً، وَأَنَا ذَلِكَ الْوَقْت، لاَ أَعْرِفُ مَعْنَى: "لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ"، وَلاَ أَعْرِفُ دِينَ الْإِسْلاَمِ قَبْلَ هَذَا الْخَيْر
الَّذِي مَنَّ اللهُ تَعَالَى بِهِ، وَكَذَلِكَ مَشَايِخِي، مَا مِنْهُم رَجُلٌ
عَرَفَ_ذَلِكَ. فَمَنْ زَعَمَ مِنْ عُلَمَاءِ "الْعَارِضِ": أَنَّهُ
عَرَفَ مَعْنَى: "لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ"، أَوْ عَرَفَ مَعْنَى الْإِسْلاَمِ
قَبْلَ هَذَا الْوَقْتِ، أَوْ زَعَمَ عَنْ مَشَايِخِهِ أَنَّ أَحَداً عَرَفَ
ذَلِكَ، فَقَدْ كَذَبَ وَافْتَرَى، وَلَبَّسَ عَلَى الْنَّاسِ، وَمَدَحَ نَفْسَهُ
بِمَا لَيْسَ فِيهِ
“Aku
mengabarkan kepada kalian tentang diriku sendiri. Demi Allah yang tidak ada
Tuhan selain Dia, sungguh aku telah menuntut ilmu, dan orang-orang yang
mengenalku menyangka bahwa aku memiliki pengetahuan. Padahal pada waktu itu
aku tidak mengetahui makna ‘Lā ilāha illallāh’, dan tidak mengetahui agama
Islam sebelum kebaikan ini yang Allah anugerahkan kepadaku. Demikian pula para
guruku, tidak ada satu pun dari mereka yang mengetahui hal itu.
Maka siapa saja
dari ulama ‘al-‘Aridh’ yang mengklaim bahwa ia mengetahui makna ‘Lā ilāha
illallāh’, atau mengetahui makna Islam sebelum waktu ini, atau mengklaim bahwa
salah satu gurunya mengetahui hal tersebut, maka sungguh ia telah berdusta,
berbuat kebohongan, menipu manusia, dan memuji dirinya dengan sesuatu yang
tidak ada padanya.”
Lalu bagaimana
mungkin orang-orang yang menyimpang ini mengklaim bahwa mereka berada di atas
akidah salaf, sementara sanad mereka kepada salaf jelas terputus?

Posting Komentar untuk "Menggugat Klaim Wahabi: Sanad Manhaj Salaf yang Palsu dan Terputus"